Rabu, 13 Feb 2019 19:39 WIB

Bayi 6 Bulan di Boyolali Lahir Tanpa Anus, Jantung dan Ginjal Tak Sempurna

Ragil Ajiyanto - detikHealth
Anke merawat anaknya, Sagan yang tengah tidur. Foto: Ragil Ajiyanto Anke merawat anaknya, Sagan yang tengah tidur. Foto: Ragil Ajiyanto
Boyolali - Kondisi memprihatinkan dialami Sagan Al Fatih. Bayi yang kini berusia 6 bulan itu mengidap kelainan jantung dan ginjal. Selain itu juga tidak memiliki anus.

"Kelainan jantung itu diketahui setelah operasi kedua (pembuatan anus). Terus diketahui juga ginjalnya mengalami kelainan juga," kata sang ibunda, Anke Indah Mawarni, ditemui di rumahnya, Jalan Garuda II no 6, Kampung Ranudimejan, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota, Rabu (13/2/2019).

Sagan merupakan anak kedua dari pasangan Susanto dan Anke Indah Mawarni. Dilahirkan melalui operasi sesar di RS PKU Aisyah, Singkil, Boyolali Kota pada 7 Agustus 2018 lalu.

"Saat lahir ada anus-nya tapi nggak berlubang. Ususnya kurang 2,7 cm," jelasnya.

Putranya itu kemudian langsung dirujuk ke RSUP Suradji Tirtonegoro, Klaten. Di sana, tim dokter melakukan operasi untuk membuatkan anus buatan.

Operasi pertama selesai, Sagan terus dirawat disana. Setelah operasi kedua, baru diketahui jika Sagan juga menderita kelainan jantung dan ginjal. Jantungnya bocor.

Sedangkan kelainan ginjal mengakibatkan jika kencing, hanya sebagian air seni yang keluar dan sebagian lagi kembali ke ginjal. Untuk itu, saluran kencing dipasang kateter agar air kencing mengalir lancar. Namun, kateter harus diganti setiap dua minggu sekali.

Menurut Anke, karena adanya beberapa kelainan tersebut Sagan sering rewel. Bahkan, jika menangis terlalu lama, tubuhnya menjadi membiru karena kurangnya pasokan oksigen ke seluruh tubuh.

"(Untuk mengatasinya) Saya diajari dokter agar kakinya ditekuk sampai nempel dada, agar oksigennya tak turun ke kaki tapi kembali ke atas," katanya.



Dikatakan, untuk anus sementara ini sudah tidak ada masalah. Kini, pengobatan akan fokus ke jantung dan ginjalnya.

"Bulan April mendatang akan kontrol yang jantungnya, sedangkan yang ginjalnya bulan Maret di rumah sakit Sarjito, Yogya," imbuh Anke.

Sagan kini juga tetap harus rutin kontrol setiap dua minggu sekali di RSUP Suradji Tirtonegoro, Klaten. Diakui, untuk pemeriksaan dan pengobatan Sagan dibiayai BPJS. Namun, ada obat-obatan dan kebutuhan lain yang tak terkover BPJS. Sehingga orang tuanya juga harus keluar duit untuk membeli obat-obatan tersebut.

Setidaknya, setiap bulan keluarga ini harus keluar biaya sekitar Rp 700.000 untuk kebutuhan membeli obat-obatan dan kebutuhan lain bagi Sagan. Seperti untuk membeli obat jantung, salep anti iritasi, perban, kantung plastik untuk kotoran yang keluar dari anus.

"Harapan kami, tole (Sagan) bisa segera sembuh, dan bisa tumbuh normal seperti bayi lainnya," harap Anke.

Harapan yang sama disampaikan Susanto, ayah bayi tersebut. Dia berharap ada jalan agar anaknya bisa segera sembuh. Apalagi biaya yang harus dikeluarkan juga tidak sedikit. Sedangkan pendapatan dari usaha warung makan kecil-kecilan di rumahnya juga tidak banyak.

"Ya akhirnya minta bantuan keluarga," tambah dia.

(up/up)
News Feed