Kamis, 14 Feb 2019 08:27 WIB

True Story

Diawali Keputihan Biasa, Ibu Ini Tak Menyangka Digerogoti Kanker Serviks

Widiya Wiyanti - detikHealth
Endang, survivor kanker serviks (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth) Endang, survivor kanker serviks (Foto: Widiya Wiyanti/detikHealth)
Jakarta - Diawali dengan keputihan, seorang ibu bernama Untung Endang Suryani (53) tak menyangka ternyata mengidap kanker serviks. Jenis kanker yang menyerang mulut rahim.

Berawal di tahun 2017, Endang mengalami keputihan dengan struktur bening dan tidak berbau. Di usianya yang menginjak 50 tahun, ia mengira hal itu merupakan tanda dari menopause.

"Habis mens (menstruasi) 4 hari, terus keputihan nggak berhenti tapi tetap nggak bau. Mungkin mau menopause, disaranin teman coba minum jamu, kunyit putih. Dua bulan minum masih tetap keputihan terus," ujarnya saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (13//2/2019).

Beberapa bulan kemudian, Endang tidak mengalami menstruasi, yang meyakininya bahwa keputihan itu merupakan tanda menopause. Namun di bulan berikutnya, tepatnya bulan Mei, ternyata menstruasi muncul kembali dan diikuti dengan keputihan tanpa henti lagi.



Bukan hanya keputihan, kulit Endang pun semakin putih pucat yang menandakan bahwa kadar Hemoglobin (Hb) rendah. Namun ia mengaku takut untuk memeriksakan kondisinya ke dokter karena takut mengetahui mengidap penyakit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

"Begitu nggak bisa bangun, baru deh minta antar ke rumah sakit. Diperiksa suspect-nya kanker serviks. Pas gitu ingetnya Jupe (Julia Perez)," lanjutnya.

Endang pun merasa cukup sedih dan depresi mengetahui diagnosisnya. Kadar Hb-nya pun menyentuh 2,6 g/dL yang mengharuskannya untuk menerima transfusi darah.

Depresi karena penyakitnya itu pun membuatnya mengalami perdarahan hebat. Ia pun harus menggunakan tampon berukuran besar yang dirasanya sangat menyakitkan.

"Waktu itu keluar darah gede banget segede batako hitam. Gede banget. Dari situ masuk IGD dipasang tampon sakitnya ya ampun, bisa sampai 3 gulung kasa dimasukin (ke vagina)," ungkap Endang.



Karena perdarahan yang tak berhenti, dokter pun memutuskan untuk melakukan radiasi pada Endang. Radiasi pun dijadwalkan sebanyak lima kali. Dan dari awal hingga terakhir transfusi darah, Endang telah menghabiskan 59 kantong darah.

"Nunggu 2 bulan untuk radiasi, dikasih kemoterapi waktu itu sama dokter. Waktu kemo, baru kenalan sama ibu-ibu masuk di grup CISC (Cancer Information and Support Center)," tutur Endang.

"Yang tadinya berasa sendiri, baru mikir oh ternyata banyak yang senasib, ada yang bisa survive padahal lebih parah dari saya," lanjutnya.

Meskipun sempat depresi dan pernah mencoba berbagai macam obat herbal dan pengobatan alternatif, Endang tetap semangat dalam menjalani pengobatan. Kini, ia bisa hidup bahagia. Endang juga kerap membagikan semangat kepada sesama survivor kanker.

(wdw/up)
News Feed