"Tahu-tahu jantung berdebar tanpa alasan. Aku terkena infeksi ginjal di musim panas. Begitu terus, lalu aku sering mengalami infeksi ragi dan masalah pernapasan, dan datang ke UGD beberapa kali karena migrain," kata ibu dari tiga anak ini, dikutip dari Fox News.
Erika menjalani operasi tersebut pada tahun 2012 dan mengalami gejala-gejala tersebut hingga memburuk di tahun 2017. Hal itu juga membuatnya turun berat badan sebanyak 18 kg dalam setahun. Ia merasakan rangkaian gejala mulai dari badan lesu, perubahan mood drastis yang hingga membuatnya memeriksakan diri ke psikiater.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun ia tak pernah mendapatkan diagnosis apapun, hingga akhirnya ia sempat terpicu untuk bunuh diri hampir tiga kali. Sampai pada titik ia menemukan sebuah grup di Facebook yang didedikasikan untuk masalah-masalah implan payudara.
Dalam grup tersebut banyak yang membagikan pengalaman dan kisah, nyaris mirip seperti yang ia alami. Menurut National Center for Health Research, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, implan payudara menjadi primadona. Asosiasi Obat-obatan dan Pangan Amerika Serikat (FDA) juga telah memperingatkan para dokter akan bahaya jenis kanker langka.
"Pasien yang mengalami gejala seperti Bu Ritschard bisa jadi sedang mengalami respons sistem imun terhadap implan tersebut. Banyak dari gejala-gejala ini yang para wanita bicarakan, nyeri sendi, linglung mental, rambut rontok, menjadi indikantor penyakit autoimun tertentu. Dan mungkin sekali kondisi-kondisi ini disebabkan oleh implan tersebut," kata Dr Diana Zuckerman, presiden National Center for Health Research.
Erika dijadwalkan mengangkat implannya pada Februari 2018 lalu dan merasa kondisi tubuhnya 'langsung' membaik. Bahkan, ia mengatakan bahwa semua gejala yang ia alami langsung menurun dalam dua bulan pertama.











































