Jumat, 22 Mar 2019 19:28 WIB

True Story

Paru-paru Terhimpit Tulang Bengkok, Bocah 3 Tahun Ini Berjuang untuk Sembuh

Aji Kusumo - detikHealth
Seorang bocah di Semarang mengidap skoliosis (Foto: Aji Kusuma/detikHealth) Seorang bocah di Semarang mengidap skoliosis (Foto: Aji Kusuma/detikHealth)
Semarang - Hidup di tanah rantauan menjadikan pasangan suami istri Antony Simanullang (30) dan Elshaday Tinambunan (28) harus bekerja lebih keras. Keadaan menjadi semakin menghimpit karena kedua pasangan suami istri itu membutuhkan biaya untuk pengobatan putri kecil mereka, Chelsea Gracia (3) yang menderita Scoliosis atau tulang bengkok.

"Kami berdua datang kemari untuk merubah nasib, kebetulan istri saya (Elshaday) kan punya ijazah D3 Analis Kesehatan. Saya berangkat dari Bali untuk mengantar istri tes CPNS di Ungaran, tetapi usaha kami belum berhasil, sedangkan ongkos untuk kembali ke Bali terpakai untuk berobat Chelsea," ujar Tony sapaan akrab Antony Simanullang saat ditemui detikHealth, Jumat (22/3/2019).

Ia menambahkan, sudah sejak 2007 meninggalkan tanah kelahirannnya di Langkat, Sumatera Utara, untuk merantau di Bali. Hingga pada 2014 silam, ia bertemu Elshaday dan menjalin ikatan suami isteri pada 2016. Sejak menikah keduanya tinggal di Bali, Tony bekerja sebagai teknisi Salon Mobil dan Elshaday bekerja sebagai Analis Kesehatan di Rumah Sakit Swasta di Bali.

"Meski kami berasal dari Sumatera Utara, tetapi kami menikah di Bali. Karena waktu itu juga ketemu di sana sebagai sesama perantau. Harapan saya kalau istri diterima PNS kan bisa untuk menambah biaya pengobatan Chelsea," ungkap Tony.

Menjalani kehidupan di tanah rantau, kehidupan keluarga Tony banyak dibantu oleh perkumpulan keluarga Batak di Kabupaten Semarang. Ia beberapa kali dibantu untuk membayar kos dan adapula yang meminjaminya sepeda motor.

"Saya selalu menekankan kepada rekan-rekan yang hendak menolong, beri saya pekerjaan saja. Kalau diberi uang pasti habis, tetapi jika pekerjaan kan saya bisa manfaatkan dan kembangkan untuk lebih baik. Oleh sebab itu jika ada kesempatan ditolong, saya selalu tawarkan jasa, apa yang bisa saya kerjakan," ujar Tony.

Elshaday menambahkan, sejak dalam kandungan, dokter sudah mendeteksi kelainan Chelsea. Namun kenyataan itu tak membuat Tony dan Elshaday berkecil hati menyambut kelahiran Chelsea. Bersama suaminya, Elshaday selalu bersyukur menjalani keadaan saat ini. Dengan begitu, perjalanan perjuangan mereka akan terasa semakin ringan.

"Saat ini disini suami saya bekerja sebagai tukang parkir di food court dekat exit tol Ungaran, sembari juga menembangkan usaha salon mobil panggilan. Puji syukur, bekerja sebagai tukang parkir suami saya juga bisa promosi usaha yang ia bangun," jelas Elshaday.



Chelsea sulit untuk duduk normal apalagi berdiri.Chelsea sulit untuk duduk normal apalagi berdiri. Foto: Aji Kusuma/detikHealth


Saat detikHealth berkunjung di rumah kos keluarga Antony, Chelsea tampak riang dan bersemangat. Ia asyik bermain uang receh yang dimasukkan ke dalam sebuah kotak bersama adiknya, Luiz. Menurut Elshaday, Chelsea hanya menderita kelainan motorik, sedangkan sensoriknya cukup baik.

Kesembuhan Chelsea adalah harapan besar bagi Tony dan Elshaday. Oleh sebab itu berbagai cara mereka tempuh untuk menggalang donasi biaya terapi Chelsea ke Negeri China yang membutuhkan biaya hingga Rp 300 juta. Salah satu cara yang mereka tempuh adalah melakukan penggalangan dana lewat kitabisa dengan link https://www.kitabisa.com/Bantuchelseagracia.

"Biaya pengobatan Chelsea ini tidak ditanggung BPJS karena sifatnya terapi. Sedangkan kami hanya butuh waktu 10 bulan lagi, untuk memaksimalkan terapi, karena jika sudah berusia lima tahun, tulang Chelsea sudah matang, sehingga susah jika diterapi. Saya buat instagram @tienambunan untuk mengupdate perkembangan Chelsea, bagi kami semakin banyak yang mengenal Chelsea, semakin dekat kami pada pintu kesembuhan Chelsea,"ungkap Elshaday berkaca-kaca.

"Menurut dokter spesialis ortopedi di RSUP Sanglah, Chelsea masih bisa sembuh, dia memberi saran ada rumah sakit di China yang bisa menerapi. Namun di manapun rumah sakit atau yang berkenan membantu kesembuhan Chelsea saya sangat berterima kasih. Saya hanya ingin anak saya bisa berdiri dan berjalan kaki," imbuhnya.

Selain menderita scoliosis, Elshaday menceritakan bahwa Chelsea juga mengalami penyempitan tenggorokan dan paru-parunya juga tertekan karena pertumbuhan tulang rusuk yang tidak normal. Bahkan beberapa minggu ini, Chelsea kerap menangis sembari menyentuh bagian paru-parunya.

"Kalau sedang kambuh saya hanya bisa memeluk dan berdoa. Saya percaya, Tuhan pasti kasih jalan. Doa saya, Tuhan berkatilah hal yang kami lakukan, sehingga kami masih bisa tetap berjuang," papar Elshaday.

Adik Chelsea, Luiz Manullang (2), merupakan motivasi Chelsea untuk sembuh. Menurut Elshaday, sebelum memiliki adik, Chelsea tidak bisa duduk, ia hanya berbaring. Namun setelah memiliki adik, dan melihat aktivitas sang adik, Chelsea mulai meniru tingkah adiknya.

"Adiknya ini malah yang mengajari Chelsea duduk dan merangkak. Kadang saya terharu melihat kerukunan mereka, ya meski kadang juga berebut sesuatu, maklum namanya juga anak-anak," tandas Elshaday.

(up/up)