Selasa, 09 Apr 2019 07:04 WIB

Wanita Ini Berendam di Air Dingin Selama 100 Hari untuk Atasi Migrain

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi berendam. Foto: ts Ilustrasi berendam. Foto: ts
Jakarta - Beth Francis asal Anglesey, Wales, mengalami migrain parah sejak usia sembilan tahun. Ia menemukan satu cara terbaik untuk meredakan gejalanya, yakni berendam di air dingin, yang lalu ia lakukan dalam program tantangan selama 100 hari.

Dalam tantangan tersebut, setiap hari Beth akan berenang di pantai Llanddona yang dingin. Walaupun ia sempat merasa olahraga, berada di luar ruangan atau berenang tidak akan membantu, namun ia telah bertekad untuk lanjut.

Wanita berusia 27 tahun tersebut mengaku bahwa saat ia masuk ke air laut tepat saat gejalanya timbul bisa mengurangi keparahannya. Meski begitu ia tidak hanya mengandalkan hal tersebut, ia juga tetap berobat dan memeriksakan diri ke dokter spesialis.

Keputusan untuk melakukan tantangan ini ia ambil sejak migrain tersebut menimbulkan gejala lainnya seperti tinnitus, mual, sakit perut dan mati rasa di salah satu sisi tubuh. Hal itu membuat Beth sangat 'menderita'.


Ia kemudian menemukan setelah membaca riset yang menyebutkan laut bisa digunakan sebagai motivasi untuk berolahraga di luar ruangan sebagai pengaruh pada kesehatan. Ia dan pasangannya, Andrew (29) membagikan pengalaman mereka di media sosial, diberi nama 100 Days of Vitamin Sea.

"Banyak kisah anekdot yang beredar tentang manfaat kesehatan berenang di luar dan di air dingin. Saat kita mendengar hal itu dapat meredakan migrain Beth atau membuat kita agak bahagia, merupakan kesempatan yang mudah untuk diambil," kata Andrew, dikutip dari BBC.

Tantangan tersebut menarik perhatian internasional, di mana beberapa pengidap migrain dari seluruh dunia datang ke Pantai Llanddola untuk ikut berenang bersama Beth pada hari ke-100.

"Hal ini sepertinya telah menyentuh banyak orang, benar-benar perjalanan yang luar biasa. Saat kami memulai semuanya hanyalah perjalanan, dan cepat sekali menjadi lebih dari itu. Jadi kami ingin membuat hari penutuh sebagai perayaan bagi orang-orang lain yang terlibat juga," tutup Beth.

(frp/up)
News Feed