Kamis, 11 Apr 2019 15:35 WIB

True Story

Kenalin Alice, Penyandang Down Syndrome Jago Masak dan Olahraga

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Alice patahkan stigma pada penyandang down syndrome. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth Alice patahkan stigma pada penyandang down syndrome. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth
Jakarta - Alice (24) tampak mencolok hari itu. Wanita berkacamata ini menguncir rambutnya ke samping, dan dengan fasih menjelaskan kepada awak media langkah-langkah yang akan dilakukan pada kelas masak kali ini.

Sangat menyukai dunia masak sejak kecil, resep dan langkah-langkahnya bukan hal asing lagi bagi penyandang down syndrome ini. Saat ditemui detikHealth di tengah acara Baking Class bersama Anak Down Syndrome di Yayasan Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI) Sunter, Jakarta Utara.

"Aku suka banget masak, tapi di rumah jarang bisa masak," celetuk Alice di sela kesibukannya menyiapkan masakan, Rabu (10/4/2019).

Kecintaan Alice pada dunia memasak dimulai saat kecil ia menonton pertandingan memasak Masterchef Indonesia. Sejak itu segala macam masakan ia pelajari, mulai sayur-sayur seperti sayur kacang panjang atau tumis hingga kue-kue kecil seperti lidah kucing hingga kue besar seperti kue ulang tahun.


Alice menjadi salah satu bukti bahwa penyandang down syndrome bukan tidak bisa menorehkan prestasi. Selain cinta masak, ia juga menyukai dunia olahraga. Beberapa juara telah ia raih lewat olahraga berenang yang ia sukai sejak kecil.

"Olahraganya (yang disukai) berenang, dari kecil les sama temenku Angel. Sekarang udah lepas bisa renang sendiri. (Bisa) gaya kodok, gaya bebas, gaya punggung, sama gaya kupu-kupu. Pernah juara dua dan satu, perak dan emas, (sama) juara lari juga," kisahnya.

Selain berenang, karate dan senam aerobik juga ia lakukan. Dengan rapih ia menyebutkan jadwalnya; aerobik setiap Senin, Selasa dan Kamis, lalu dilanjut karate (kini sedang ujian tingkat menjadi sabuk hijau) di hari Jumat. Ia juga mengisi aktivitasnya dengan menari bersama kelompok, mulai dari tarian hiphop hingga tarian tradisional pendet.

Alice memamerkan kebolehannya menari pendet.Alice memamerkan kebolehannya menari pendet. Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth


Alice juga bekerja di sebuah firma hukum terkenal di Jakarta. Sekitar empat jenis pekerjaan ia lakukan dan ia menyebut sangat senang dan tak sulit melakukannya, berkat pelatihan yang ia jalani sejak kecil. Kini ia juga sedang mendalami ilmu komputer dan internet. Aktivitas yang padat tak membuat Alice merasa lelah, justru memang sudah menjadi bagian hidupnya. Keluarganya sangat mendukung dan selalu menyayanginya, terutama sang kakak kandung.


"Kalau minggu suka jalan, makan di luar, makan-makan enak (tapi) vegetarian karena koko sama mamah. Terus ke vihara tapi jarang, terus Ko (kakak laki-laki) Andre suka ngajak nonton bioskop. Paling suka action sama tembak-tembakan. Sama yang lucu, yang bisa (bikin) ketawa," imbuhnya.

Dewi Wardhani, sebagai kepala sekolah ISDI, tempat Alice berlatih mengatakan sangat penting bagi penyandang down syndrome yang telah lepas usia sekolah untuk tetap berlatih untuk ketrampilan. Sebagai salah satu bekal untuk melanjutkan hidup.

"Kadang di rumah sikap dan perilakunya kadang bertambah nggak bagus, pola makan juga berantakan. Kalau di sini mereka bisa saling bersosialisasi dengan teman, guru, nonton film. Pada akhirnya mereka dapat menghasilkan uang, kemandirian, ketrampilan, jadi produktif. Karena kan kita tahu anak down syndrome itu mampu latih, bukan mampu didik. jJdi pelatihan-pelatihan itu yang akan mengembangkan potensi mereka," jelas Dewi, saat diwawancarai pada kesempatan yang sama.

Ia menyebutkan faktor lainnya adalah kemungkinan tidak ada perusahaan-perusahaan yang akan mempekerjakan mereka, oleh karena itu ketrampilan ini mereka butuhkan. Misalnya pelatihan membuat kue kering seperti dilakukan Alice, lalu dibantu untuk menjualkan ke perusahaan, di mana untungnya akan kembali lagi ke anak-anak tersebut.

Ia berharap ke depannya, terutama pada pemerintahan yang baru, jangan lagi ada anak down syndrome yang dipandang sebelah mata atau diremhkan. "Tetap diperhatikan, tetap diberikan fasilitas yang memadai, karena mereka nggak mau kan terlahir down syndrome," tutupnya.

(frp/up)
News Feed