Rabu, 24 Apr 2019 13:38 WIB

True Story

Kisah Penyintas Skizofrenia: Mereka Bilang Saya Gila, Tapi Saya Punya Karya

Aisyah Kamaliah - detikHealth
Saka Rosanta (37) penyintas skizofrenia (Foto: Aisyah/detikHealth) Saka Rosanta (37) penyintas skizofrenia (Foto: Aisyah/detikHealth)
Denpasar - Saka Rosanta (37) terkejut ketika buku-bukunya diborong oleh Menteri Kesehatan Nila F Moeloek. Dirinya boleh diejek oleh orang-orang karena jadi penyintas skizofrenia, namun siapa yang bisa mengalahkannya dalam menelurkan lima buku dengan tulisan puitis?

Bli Saka sapaannya, mengisahkan bahwa ia mengidap skizofrenia sejak kecil. Masa lalunya yang penuh trauma dari keluarga broken home membuat ia tumbuh dengan banyak gangguan.

"Gantung diri tiga kali tapi talinya putus. Minum racun sekali saat SMA. Terus kena trauma. Trauma healing berat, karena pola asuh saat masih kecil. Hidup dari ibu tiri. Kekerasan sudah saya rasakan di rumah. Insomnia, nggak bisa tidur, sejak SD," bukanya saat ditemui di sela kunjungan tematik Kementerian Kesehatan RI, Rabu (24/4/2019).


Gantung diri tiga kali tapi talinya putus. Minum racun sekali saat SMA. Terus kena trauma. Trauma healing berat, karena pola asuh saat masih kecilSaka Rosanta - Penyintas gangguan jiwa

Uniknya, penyakit ini bisa ia kalahkan lewat terapi diri sendiri dan bantuan istrinya. Saat itu ia sedang mengamuk, lalu istrinya menanyakan padanya apakah ia akan terus berkutat pada dunia sendiri atau berkerja. Hal itu membuatnya berpikir untuk mencari terapi bagi dirinya.

"Saya berpikir apa sih yang dimaksud dengan dunia sendiri itu apa? Jadi saya kisahkan saja skizofrenia dan sugesti alam bawah sadar, penyembuhan diri sendiri saya cari untuk diri sendiri. Akhirnya berhasil, sembuh. Caranya dengan menulis, dimulai tahun 2015 atau 2016," ujar Bli Saka.

Saka menceritakan latar belakang yang membuatnya menulis buku. Ia menuturkan orang dengan skizofrenia sebenarnya hanya butuh menuangkan apa yang ada dalam pikirannya. Nah, khusus Saka, ia merasa menuliskan apa yang ada dalam pikirannya ke dalam bentuk buku bisa membantunya.

"Saya kan kena obsesif, jadi dalam perbincangan tersebut saya visualkan orang tersebut dan akhirnya menjadi pembicaraan dalam diri saya sendiri dan akhirnya bisa berkomunikasi walaupun hanya dalam imajinasi, tapi bisa sembuh, itu anehnya," ujar Bli Saka.

Menulis lima buku ini, Saka mengaku tidak dibantu siapa-siapa, hanya saja dorongan istrinya membuat ia bersemangat untuk terus menciptakan kreasi.


"Istri saya, saya buatin novel, novel saya yang ketiga judulnya Buku Itu di Atas Kertas. Istri saya namanya Dewi. Endingnya Dewi yang seperti Dewi Kwan Im. Seorang ibu yang penuh kasih sayang merawat saya," kisah Saka.

Selain terapi diri sendiri dan dukungan istri, Rumah Berdaya juga memberikan bantuan yang besar bagi Saka. Rumah Berdaya merupakan tempat rehabilitasi psikosial bagi orang dengan skizofrenia (SDO) atau ODGJ di bawah naungan dinas sosial Denpasar bekerjasama dengan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI). Menurut Saka, Rumah Berkarya dan dirinya memiliki hubungan seperti anak dan ayah.

"Kita disayang sekali disini kaya bayi hingga tumbu dan menemukan jati diri. Saya ketemu di media sosial. Minta dibantu pengobatan. Dulu penasaran karena saya ngamuk-ngamuk di rumah, saya hampir lumpuh nggak bisa jalan."

Dari sana, ia diajarkan untuk mengaktifkan kreativitas mulai membuat dupa, menyablon, hingga membuat totebag.

"Dupa yang laris sekali, hampir seminggu tiga hari sekali diproses," ujar Saka.

Saka tidak meminum obat-obatan setiap hari, hanya saja sekarang tetap harus diinjeksi obat sebulan sekali. Suntikan ini disebut Saka bertujuan untuk menghancurkan dopamin di otak agar tidak mengalami kecemasan berlebiham.

Saka kini telah dikaruniai dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Dengan ceria ia menuturkan anaknya kini telah duduk di bangku 3 SMP dan 5 SD. Kehidupan Saka pun kembali berwarna, skizofrenia bisa ia lawan dan berbalik menjadi bukti bahwa stigma tentang skizofrenia sama dengan orang 'gila' itu salah.

"Stigma di masyarakat biarin aja sih. Tapi kitakan selama ini berjuang melawan stigma dengan berkarya, dengan membuat apa gitu. Orang skizofrenia juga bisa berkarya dengan menulis, melukis, sekalian kerjaan reguler kita di luar, masih banyaklah yang bisa kita lakukan," tuturnya.

(ask/up)
News Feed