Senin, 13 Mei 2019 16:34 WIB

Kisah Sedih Seorang Ibu yang Berjuang Lawan Tiga Kanker Sekaligus

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi wanita terdiagnosis kanker. Foto: thinkstock Ilustrasi wanita terdiagnosis kanker. Foto: thinkstock
Jakarta - Dalam 12 tahun terakhir, Debbi Caquias (51) menghabiskan hidupnya tak bisa berbicara atau makan layaknya orang normal. Selama itu juga ia berperang melawan tiga jenis kanker yang menggerogoti tubuhnya, yakni di lidah, tulang dan kelenjar getah bening.

"Dokter berkata aku sangat sial karena terdiagnosis tiga kanker berbeda, aku merasa seperti bom waktu menunggu meledak. Aku sangat rindu hal-hal simpel seperti tersenyum, berbicara, tertawa dan mencium anak-anakku (walau mereka lebih sering menciumku)," tulis Debbie, dalam korespondensinya dengan situs Metro.co.uk melalui email .

Tahun 2007, kanker terdiagnosis di lidahnya dan membuat dirinya menjalani kemoterapi dan radioterapi selama 7 minggu. Prosedur tersebut seakan membakar mulut dan tenggorokannya, membuatnya tak memungkinkan dirinya untuk makan sehingga makanan 'dimasukkan' lewat perutnya.

Lalu pada tahun 2015 ia menjalani bedah rekonstruktif namun tulang rahangnya hancur dan mata kirinya lumpuh. Tak lama kemudian dua kanker lain terdiagnosis di tulang dan kelenjar getah bening di lehernya.



Karena hal itu juga, Debbie kerap jadi sorotan orang-orang ketika berbelanja, atau sekadar berjalan-jalan dengan keluarganya. Namun ia berjuang untuk tetap kuat, apalagi saat kedua anak perempuan dan suaminya sangat-sangat mendukung mereka.

"Suami dan anak-anakku adalah pendukung utamaku. Walau masih muda, para putriku sangat luar biasa. Mereka membantu membersihkan lukaku dan tak akan membuatku sedih. Kadang ada saat di mana aku merasa kewalahan dan bersalah namun aku tidak bisa begini saja dan menyerah," tuturnya.

Walau tak bisa berbicara, ia dan keluarganya punya cara sendiri untuk berkomunikasi. Kini yang ia butuhkan hanyalah melakukan imunoterapi dan dokter bedah rekonstruksi yang sangat ahli, namun biaya yang dibutuhkan di luar kemampuan mereka. Oleh karena itu keluarga dan teman-temannya membuka laman donasi untuk Debbie.

"Aku langka, biasanya orang yang terkena kanker (lidah) sepertiku tidak bertahan hidup bahkan sampai dua kali sehingga aku merasa sngat bersyukur bisa berada di sini. Sangat sulit berada di luar sana yang membuatku merasa sangat lemah. Aku menolak untuk berputus asa dan berpikir, jika aku dapat menemukan orang yang tepat (dokter bedah), kita dapat memperbaikinya," pungkasnya.

(frp/frp)