Selasa, 28 Mei 2019 10:04 WIB

Dikira Flu, Gadis Ini Ternyata Meninggal Karena Meningitis

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Ilustrasi gadis sakit meningitis. Foto: ilustrasi/thinkstock Ilustrasi gadis sakit meningitis. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Suatu hari pada bulan Oktober di tahun 2014, Sara Stelzer (18) mengeluh pada kedua orang tuanya bahwa kepalanya sangat sakit. Yang kemudian disusul dengan rasa kelelahan dan mual, membuat gadis tersebut beberapa kali tertidur nyenyak di kelas.

"Kami mengira penyakitnya flu, kami memintanya untuk beristirahat dan pergi ke pusat kesehatan siswa. Dia lebih memikirkan soal melewatkan kelas ketimbang kondisinya yang buruk," kata ayahnya, Greg (63), dikutip dari Fox News.

Setelah itu di tubuh Sara muncul memar warna keunguan, yang kemudian membuatnya masuk ke UGD dan kondisinya dibuat koma. Dokter mengatakan ia telah tertular meningitis B dan akan mengobatinya dengan antibiotik.

Sayangnya, infeksi tersebut telah menyebar ke otak dan tulang belakangnya, menyebabkan stroke dan kematian otak. Greg menyebut saat itu baginya Sara telah meninggal, sebelum ia benar-benar menghembuskan napas terakhir dua hari kemudian.


"Tak pernah terpikirkan oleh kami bahwa gejala yang mirip flu bisa membunuhnya dalam jangka waktu 36 jam," kata Laurie (51), ibunya.

Penyakit meningitis atau meningococcal disebabkan oleh lima tipe bakteri yakni A, C, W, Y dan B. Saat kecil, Sara mendapatkan vaksin meningitis, namun bukan vaksin untuk bakteri meningococcal tipe B.

Rasa kehilangan membuat Greg dan keluarganya sungguh terpukul. Tahun pertama bagaikan terutup kabut, mereka mencari bantuan pada support group dan konseling. Namun setelah 'kabut' itu terangkat, mereka merasa perlu melakukan sesuatu.

Kedua orang tua Sara menyebarkan kepedulian, dari satu universitas ke universitas lain untuk mengedukasi para dosen, pegawai, orang tua dan mahasiswa soal penyakit mematikan tersebut dan bagaimana mencegahnya.

"Mencegah lebih baik daripada harus menghadapinya setelah itu terjadi, kami mengunjungi setiap sekolah untuk mencoba dan mendorong mereka soal hal itu. Seandainya kami dulu tahu, Sara mungkin masih ada di sini bersama kami. Bagi kami, hal ini (menyebarkan kepedulian) bagaikan terapi, ini warisan Sara. Hal ini membuat ingatan kami tentangnya hidup," pungkas Greg.

(frp/up)
News Feed