Senin, 19 Agu 2019 10:55 WIB

Selama 6 Tahun Dokter Salah Diagnosis, Kanker Otak Malah Dikira PMS

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi kejang. Foto: Thinkstock Ilustrasi kejang. Foto: Thinkstock
Jakarta - Enam tahun lamanya, Karissa Ostheimer (34) tidak tahu kalau dirinya mengidap penyakit yang cukup serius. Dokter salah mendiagnosis kanker otak yang dialaminya dengan premenstrual syndrome (PMS).

Yang dialami Karissa bermula saat dirinya berusia remaja kerap mengalami sensasi aneh. Selama beberapa menit, ia tidak bisa berbicara dan mengalami tremor. Bahkan ia tidak bisa membaca atau menulis dalam beberapa saat. Keluarga dan teman-temannya mengatakan bahwa Karissa seperti orang yang sedang melamun.

Gejala-gejala yang dialaminya terjadi saat Karissa mengalami menstruasi. Dokter pun mendiagnosisnya dengan PMS dan diberikan pil KB untuk mengurangi gejala tersebut.

Namun saat duduk di bangku kuliah, gejala yang dialmi Karissa semakin parah. Gejala-gejala tersebut diiringi dengan kejang. Bahkan teman-teman yang menyaksikannya berkata seperti ia sedang melihat hantu.

Dokter mendiagnosis Karissa dengan gangguan premenstrual dysphoric disorder (PMDD), yaitu bentuk PMS yang cukup parah. Dokter juga menduga bahwa Karissa memiliki gangguan panik. Karissa pun tetap diresepkan pil KB dan disarankan untuk mengunjungi psikiater.

"Selama tahun-tahun, saya tidak ingin pergi ke mana pun karena saya takut saya akan memiliki gejala-gejala itu di depan umum," katanya dikutip dari Health.

Karissa merasa ada yang salah dengan diagnosis itu. Beberapa kali masuk rumah sakit karena gejalanya, Karissa tetap tidak mendapatkan jawaban dari tenaga medis.



Setelah lulus dari perguruan tinggi, Karissa pindah ke Texas. Karena gejalanya semakin parah hingga menyebabkan kecelakaan, Karissa pun disarankan ke dokter ahli saraf setelah enam tahun memiliki gejala-gejala seperti itu.

Ahli saraf memintanya untuk menjalani tes electroencephalogram (EEG), suatu tes untuk mencatat aktivitas listrik di otak. Hasilnya menunjukkan bahwa ia mengalami rata-rata 20 kali kejang setiap hari.

"Saya didiagnosis dengan epilepsi katamenial, yang berarti fluktuasi hormon yang terjadi selama kejang saya memburuk," jelasnya.

Enam bulan menjalani pengobatan, sayangnya tidak memiliki efek apapun. Ahli saraf pun meminta Karissa untuk menjalani MRI otak.

Hasilnya, Karissa mengidap tumor otak. Tumor itu pun ternyata bersifat kanker yang berada di lobus temporal kiri, khususnya di bagian hippocampus dan amigdala. Arena otak ini mengendalikan respon rasa takut dan pemahaman kata.

"Itu menjelaskan teror yang tidak dapat saya jelaskan dan ketidakmampuan untuk berbicara selama beberapa saat. Saya berusia 20-an, baru lulus kuliah, dan saya merasa dijatuhi hukuman mati," ungkap Karissa.

Pada Maret 2010 lalu, Karissa pun menjalani operasi pengangkatan tumor. Ia berada di rumah sakit selama dua minggu dan menjalani terapi berbicara selama dua tahun. Gejala-gejala yang selama ini dialaminya hilang, selain kejang.

"Sekarang, sembilan tahun pasca operasi, saya hanya mengalami kejang ringan yang dikenal sebagai aura, sekali atau dua kali sebulan. Dengan beberapa keajaiban, gambar MRI dari situs reseksi tumor saya telah stabil, dan tidak ada pertumbuhan kembali," tutup Karissa.



Simak Video "NGOBS KUY! Ciri-ciri Cewek PMS"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)