Senin, 02 Sep 2019 12:31 WIB

Terkena Sindrom Tubuh Terkunci, Mantan Prajurit Ini Memohon untuk Dibunuh

Widiya Wiyanti - detikHealth
Ilustrasi lumpuh karena stroke. Foto: iStock Ilustrasi lumpuh karena stroke. Foto: iStock
Jakarta - Seorang mantan prajurit Inggris, Peter Coghlan (42) mengungkapkan dirinya pernah memohon kepada sang ibu untuk dibunuh saja. Lantaran Coghlan mengalami lumpuh akibat stroke yang dialaminya.

Pada 2011 lalu, kepala Coghlan terbentur yang mengakibatkannya stroke. Jenis stroke yang diidapnya pun berbeda dari jenis stroke lain, yaitu ia didiagnosis locked-in syndrome (LIS) atau sindrom tubuh terkunci.

Sindrom ini membuat pria yang sebelumnya seorang prajurit Angkatan Darat Inggris sejak usia 18 tahun ini tidak bisa bergerak maupun berkomunikasi meskipun ia menyadari lingkungan sekitarnya.

Gangguan di otaknya terbilang langka yang menyebabkan kelumpuhan semua otot kecuali otot yang mengendalikan gerakan mata. Sindrom ini disebabkan oleh kerusakan pada batang otak yang diyakini hanya menyerang sekitar satu persen orang yang mengalami stroke.



Setelah hanya berbaring di ranjang rumah sakit selama tiga minggu, Coghlan berkata melalui huruf-huruf alfabet yang dikedipkannya, "Bu, aku ingin mati. Tolong bunuh aku."

Perkataan itu pun membuat ibunya sangat bersedih. Namun ia meminta Coghlan untuk tetap berjuang sedikit lagi.

"Dia (ibunya -red) berkata, 'jika kamu masih ingin mati dalam waktu tiga bulan, maka aku akan membantumu entah bagaimana. Tapi tunggu sebentar, kamu akan baik-baik saja'" kenang Coghlan dikutip dari DailyMail.

Keajaiban pun dimulai. Setelah empat minggu terbaring di rumah sakit, Coghlan akhirnya memiliki kekuatan untuk menggerakkan ibu jarinya setengah milimeter ke arah jari telunjuk. Pergerakan kecil itu merupakan awal dari perjalanan panjang Coghlan menuju pulih.

"Setelah itu, saya menjadi terobsesi. Saya menghabiskan sepanjang hari menggerakkan ibu jari dan jari telunjuk, perlahan-lahan mendekatkan keduanya," ungkapnya.



Selama enam bulan, Coghlan berhasil menyentuhkan ibu jari ke jari-jarinya yang lain. Ia juga mulai menggerakkan tangan, lengan, dan kakinya sambil berbaring. Bahkan kemajuan yang pesat, ia bisa menendang bantal dari tempat tidurnya.

Dengan latihan rutin, Coghlan pun bisa berdiri dan belajar berjalan lagi. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam berlatih berjalan di bangsal dan bahkan melakukan pull up di sisi tempat tidurnya.

Coghlan menjadi pasien sindrom tubuh terkunci pertama yang keluar dari rumah sakit rehabilitasi Shenton Park tanpa kursi roda.

Ia pun belum membutuhkan janji dengan seorang profesional kesehatan, seperti ahli saraf atau fisioterapis sejak pulang kampung tahun 2014 lalu. Dokter tertarik mempelajari bagaimana Coghlan dapat pulih secepat itu.

Kini, Coghlan telah menulis sebuah buku bertajuk 'In the Blink of an Eye: Reborn', berisi pengalamannya mengidap sindrom tubuh terkunci atau locked-in syndrome.

"Saya ingin orang-orang bertahan walau dengan stroke dan cedera otak, otak dapat sembuh dengan perjuangan," tandasnya.



Simak Video "Cerita Penulis Vabyo Kena Stroke di Usia 35 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(wdw/up)