Jumat, 13 Sep 2019 22:56 WIB

Seorang Pasien Epilepsi Sumbangkan Sebagian Otak untuk Riset

Rosmha Widiyani - detikHealth
Menyumbangkan otak dalam kondisi masih hidup masih jarang dilakukan (Foto: thinkstock) Menyumbangkan otak dalam kondisi masih hidup masih jarang dilakukan (Foto: thinkstock)
Jakarta - Menyumbangkan sebagian organ, apalagi dalam keadaan masih hidup, mungkin masih menjadi hal yang meragukan. Namun kondisi ini tak masalah bagi seorang wanita bernama Rihanna Kortlever asal Seattle yang mengalami epilepsi. Dia menyumbangkan sebagian otaknya demi riset terkait cara kerja, penyakit, dan penanganan yang lebih baik.

"Saya mengalami epilepsi dan berbagai gangguan yang menyertainya. Dengan gangguan ini, saya senang jika menyumbangkan sebagian otak bisa membantu mengatasinya. Bagi saya ini adalah menolong orang lain yang punya masalah serupa," kata Kortlever yang merupakan pasien bedah saraf dikutip dari News Archive UK.

Sebelumnya, Kortlover sempat menjalankan operasi untuk memperbaiki epilepsi yang dialaminya. Kortlover menyumbangkan sebagian kecil bagian otaknya yang disebut neokorteks. Areal ini merupakan lapisan otak bagian luar yang berkerut, kadang dibuang sebagai salah satu sampah medis. Operasi dilakukan di Allen Institute for Brain Research yang juga menjadi lokasi penyimpanan bagian otak.

"Kami sedang mencoba melakukan survei skala besar untuk semua tipe neuron yang berbeda dalam otak manusia. Kami dan banyak orang lain percaya, banyak penyakit terutama yang berkaitan dengan saraf dan gangguan mental adalah hasil dari mutasi yang spesifik. Penyakit tersebut juga terkait dengan kekurangan zat tertentu pada sel-sel otak yang spesifik," kata kepala peneliti di Allen Institute for Brain Research Christof Koch.



Setelah neokorteks berhasil diambil dari otak Kortlover, bagian ini disimpan dalam wadah yang lebih dingin dan dipindahkan dengan hati-hati ke laboratorium milik Allen Institute. Neokorteks dipotong sangat tipis sehingga bisa bertahan hidup dalam hitungan hari hingga minggu. Periset menggunakan teknik elektrofisiologi untuk mengetahui aktivitas dalam sel otak.

Dengan teknik tersebut, peneliti bisa memanipulasi lapisan otak dengan pipet kaca yang sangat kecil. Peneliti bisa mengetahui aktivitas elektronik yang cara sel otak menghilangkan nukleus. Diperkirakan terdapat 75 tipe sel berbeda di neokorteks yang memiliki aktivitas detail.

"Jika kita ingin mengembangkan obat misal untuk gangguan kejiwaan, maka kita harus tahu detail aktivitas dan bagian otak yang terpengaruh. Molekul dan reseptor di sel mana yang bisa mengekspresikan obat sesuai tujuan penggunannya. Inilah pentingnya riset menggunakan otak manusia dalam kondisi hidup, bukan lagi organ milik hewan misal tikus," kata Koch.

Menurut peneliti beberapa kondisi spesifik tidak terdapat di otak hewan seperti pada manusia. Misal produksi senyawa serotonin pada manusia yang menyulitkan pengobatan depresi dan gangguan cemas.



Simak Video "Daging Tak Matang Bisa Bikin Infeksi Cacing Pita Sampai ke Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)