Minggu, 06 Okt 2019 08:17 WIB

True Story

Cerita Tantin, 5 Tahun Sukarela Selamatkan Bumil di Pedalaman Banyuwangi

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Kader Laskar SAKINA di Kecamatan Sempu (Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth) Kader Laskar SAKINA di Kecamatan Sempu (Foto: Frieda Isyana Putri/detikHealth)
Banyuwangi - Tantin Dwi Hastuti (44) asal Desa Krajan memiliki pekerjaan yang cukup tak umum bagi seorang ibu dan wanita di Indonesia. Tantin rela bekerja sampai malam hari dan menembus hutan tanpa penerangan sebagai kader Laskar SAKINA di Kecamatan Sempu, dengan misi menyelamatkan para ibu hamil risiko tinggi.

Selama 5 tahun, Tantin secara sukarela membantu inovasi program Puskesmas Sempu bernama SAKINA, yang merupakan singkatan dari Stop Angka Kematian Ibu dan Anak. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menunjukkan adanya lonjakan kematian ibu di Jatim. Tak hanya ibu, angka kematian bayi juga ikut meningkat, sehingga hal ini mendasari munculnya inovasi dari puskesmas Sempu untuk membuat program tersebut.

"Tahun 2017 ke 2018 seluruhnya ada lima kematian (ibu). Tahun 2019 sampai dengan bulan Maret 2019 ada 98. Mudah-mudahan bisa turun signifikan turun karena berbagai upaya sudah dilakukan. Kematian bayi tahun 2019 di bulan Februari juga naik, ada 208 di Januari dan 230 di Februari," papar drg Ina Manahani, Kepala Bidang Sumber Daya Dinkes Jatim pada Media Briefing di Banyuwangi, baru-baru ini.

Kepada detikcom, Tantin menyebut ia tak pernah mempermasalahkan tak adanya timbal balik dari pihak puskesmas. Pekerjaan ini ia lakukan semata-mata karena ia berjiwa penolong, terutama bagi sesama perempuan.



Bersama puluhan kader Laskar SAKINA lainnya, mereka membantu, menemani, dan mengedukasi para ibu hamil risiko tinggi yang berada di lokasi jauh dari posko kesehatan dan menyumbang angka kematian ibu dan anak yang tinggi tersebut.

"Munculnya Laskar SAKINA laskar sakina ini sangat membantu dengan mendeteksi dini pada ibu yang tjnggi risiko dan kader siap mendampingi baik itu mulai awal sampai dengan melahirkan. Untuk dia kontrolnya, keluhannya, kita menyampaikannya ke bidan," kata Tantin, ditemui di Puskesmas Sempu.

Banyak suka dan duka yang dialami Tantin selama menjadi kader. Saat mendapat laporan soal ibu hamil risiko tinggi di pedalaman, ia dan tim akan berangkat menuju lokasi untuk peninjauan. Di mana lokasinya bisa di dalam hutan, berbatu, dan belum beraspal.

Belum lagi jika ada penolakan dari pihak keluarga maupun pihak bumil sendiri. Beberapa merasa tidak nyaman untuk berada di luar rumah, atau masih juga ada yang lebih mengandalkan bantuan dukun anak.

"Iya (masih ada). Tapi setelah membujuk dan memberi tahu soal bahaya ibu hamil kalau nanti dia melahirkan di sana, akhirnya setelah menunggu jawaban masing-masing keluarga, dia mau untuk turun ke rumah singgah. Walau tidak mulus untuk dirujuk di rumah sakit. Semalaman di rumah singgah dia menangis, karena dia merasa ndak nyaman, enak tidur di rumahnya sendiri. Tapi kita sebagai laskar kita selalu mendampingi, menjenguk, menunggu, menemani dia, dan akhirnya dia mau sampai dia melahirkan, lahirannya caesar juga karena dia risiko tinggi kan," lanjutnya lagi.

Tak jarang pula Tantin mendapatkan laporan ibu risiko tinggi akan melahirkan di tengah malam, apalagi dengan jarak yang jauh. Namun tentu saja, jika keadaan tidak memungkinkan, pihak puskesmas Sempu selalu siap siaga ambulans untuk menjemput ibu hamil tersebut.

Meski begitu, wanita ini tak pernah mengeluh akan pekerjaannya. Semua ia lakukan semata-mata atas dasar kemanusiaan dan demi menurunkan angka kematian ibu dan anak di Sempu.

"Kalau dibilang capek ya capek. tapi kembali ke yang di Atas dengan niatan yang ikhlas tadi. Jadi kita sama-sama perempuan pernah merasakan orang mau melahirkan itu. Kita orang yang ndak berada di pedalaman aja bisa merasa sakit pas mau melahirkan, apalagi yang di wilayah hutan. Kita tidak dapat membayangkan bagaimana mereka melahirkan di sana dengan tidak tertangani dari posko kesehatan," kata Tantin.

"Saya memang senang membantu, sampai dibilang ndak dibayar kok mau, karena jiwa saya udah seperti itu," pungkasnya.



Simak Video "Proyek 'Dum-Duum', Langkah Polewali Mandar Cegah Kematian Ibu Hamil"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/up)