Senin, 16 Des 2019 13:20 WIB

Cerita Wanita yang Idap Kanker Payudara Stadium 4 di Usia 22 Tahun

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Cerita penderita kanker payudara di usia 22 tahun. Foto: iStock Cerita penderita kanker payudara di usia 22 tahun. Foto: iStock
Jakarta - Februari lalu, Samantha Redi (22) terkejut saat menemukan benjolan di payudaranya. Namun yang lebih mengejutkan lagi, saat ia memeriksakannya, dokter menyangkal dengan menyebut ia terlalu muda untuk terserang kanker payudara dan hanya memberinya antibiotik.

Dikutip dari Mirror, dokter menyebut ia mengalami kista atau infeksi kelenjar susu, meskipun ia bukan ibu menyusui. Ia juga diinstruksikan mengompres hangat benjolan itu dua kali sehari dan diminta kembali ke dokter apabila tak hilang selama seminggu.

Tetap tak hilang, ia menjadwalkan diri mengikuti pindaian USG dan biopsi. Hasilnya benar, ia terdiagnosis kanker payudara stadiium empat yang telah menyebar ke beberapa kelenjar getah bening dan tulang iganya.

"Jika kamu hanya melihat payudaramu di kaca, keduanya terlihat sama, oleh karena itu mungkin aku tak pernah menyadari adanya benjolan di sana. Aku pikir jika ini adalah sesuatu yang serius, maka akan terlihat. Saat benjolannya membesar di Senin pagi, aku memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter," kata Samantha, kini berusia 23 tahun.


Saat menerima diagnosis, Samantha mengaku sudah menduganya. "Para dokter terlalu berfokus pada fakta bahwa tak mungkin aku terserang kanker payudara pada usiaku sehingga mereka mengabaikannya sebagai suatu hal yang tak perlu dikhawatirkan," imbuhnya lagi.

Awalnya Samantha diharuskan menjalani mastektomi ganda, namun ia menolak dan lebih memilih lumpektomi dengan alasan pemulihan yang cepat. Ia juga mulai terapi radiasi lebih cepat dan menjalani prosedur pengambilan telur untuk bayi tabung selama dua minggu.

Samantha mengisahkan beratnya menjalani kemoterapi. Usai kemoterapi, ia bisa tidur seharian dan masih merasa lelah ketika bangun, dan juga beberapa efek samping lainnya seperti mual, pusing, badan panas, mimisan, neuropati, dan masih banyak lagi.

"Rambutku mulai rontok dua minggu usai pengobatan pertamaku, maka dari itu aku memutuskan untuk menggundulnya. Kemo terakhirku adalah tanggal 26 Juli dan aku bisa mengumpulkan kekuatan sebelum operasi lumpektomi dan pengangkatan kelenjar getah bening pada Agustus," ujarnya.

Usai terdiagnosis dan mendapat reaksi akan betapa mudanya usia Samantha untuk terkena kanker, Samantha menjadi belajar bahwa ada banyak hal ia khawatirkan namun tak penting. Penting baginya untuk meluangkan waktu bagi diri sendiri.

"Kanker mengajarkanku soal empati dan penilaian. Membuatkan sadar bahwa aku bisa mencoba memahami apa yang sedang dilalui orang lain, namun aku tak akan tahu kisah selengkapnya makanya bukan hakku untuk menghakimi mereka," pungkasnya.


Simak Video "Payudara Prostetik untuk Pengidap Kanker Payudara"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/fds)