Rabu, 25 Des 2019 19:46 WIB

True Story

Seram, Tubuh Wanita Ini 'Dimakan' Bakteri karena Penyakit Langka

Frieda Isyana Putri - detikHealth
Tubuhnya penuh luka, wanita ini tak berani keluar rumah dan alami trauma. Foto: ilustrasi/thinkstock
Jakarta - Mercedes Michalski (26) mengidap kondisi yang disebut pyoderma gangrenosum, yang menyebabkan banyak luka di sekujur tubuhnya dan membuat jaringan dan kulitnya membusuk 'dimakan' bakteri. Ia kini hanya bisa meninggalkan rumah untuk pergi ke dokter dan mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD).

Awalnya ia menyadari adanya bintil kecil di payudaranya pada tahun 2017 namun kini hampir seluruh tubuhnya tertutup luka-luka menyeramkan. Payudara itu kini hampir tak berbentuk karena kondisi tersebut.

Kondisi ini sangat menjijikkan baginya, demikian dilaporkan Daily Mail. Hal ini membuat Mercedes yakin tidak akan dapat menemukan pasangan. Ia tetap merasakan sakit meski kini luka-luka tersebut telah sembuh dan menjadi bekas luka.

"Ini bagaikan nyeri yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Membuatku sangat depresi untuk meninggalkan rumah. Aku merasa jelek. Aku tak ingin meninggalkan rumah selain untuk pergi ke dokter. Aku jomblo dan khawatir bila bertemu seseorang karena tak tahu apa respon mereka," kata Mercedes.


Pyoderma gangrenosum merupakan kondisi yang tak cukup dimengerti namun diklasifikasikan menjadi penyakit autoimun. Diduga hanya menyerang satu dari 100 ribu orang dan bukanlah penyakit yang diturunkan maupun ditularkan.

Operasi belum selalu menjadi pilihan yang aman bagi pengidap penyakit ini karena bisa menyebabkan cedera ke kulit dan mengakibatkan makin banyak luka muncul. Oleh karena itu Mercedes memutuskan untuk tidak mengoperasi payudaranya.

Kabar bahagianya adalah penyakit ini dapat ditangani dan hilang dengan sendirinya namun membutuhkan berbulan-bulan atau tahunan hingga akhirnya sembuh dan pulih.

Penyakit ini menyebabkan Mercedes kehilangan pekerjaannya dan takut untuk memiliki hubungan dengan orang lain. Ia bahkan mengaku berpakaian bisa menjadi sangat tidak nyaman dan rasa panas bisa membuat kondisi semakin buruk.

"Penyebarannya menyakitkan namun saat mereka sembuh mereka menjadi bekas luka yang juga sakit setiap saat. Aku hanya keluar untuk mengunjungi dokter agar mengganti perbanku, tapi aku saja harus memohon-mohon pada mereka untuk berhenti karena rasa sakitnya. Aku berakhir terkena PTSD karena banyaknya rasa sakit dan syok yang kualami," tandasnya.



Simak Video "Jawaban Dokter soal Tingkat Akurat Rapid Test Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(frp/fds)