Jumat, 08 Mei 2020 15:30 WIB

Korban Corona, Cerita Haru Anak yang Kehilangan Jenazah Ayahnya di Ekuador

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Horor! Begitulah yang terjadi di Ekuador. Mayat hingga peti jenazah bergeletakan di jalanan saat pandemi Corona (Covid -19). Begini penampakannya. Kisah anak kehilangan jenazah ayahnya, korban Corona di Ekuador. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

Kisah haru datang dari anak Flaviro Ramos yaitu Arturo Ramos, di Ekuador. Ia menceritakan bahwa jenazah sang ayah yang berusia 55 tahun, salah satu korban Corona, dilaporkan hilang oleh rumah sakit setempat.

Sebelumnya, sang ayah disebut merasa kesulitan bernapas pada 31 Maret lalu. Arturo Ramos yang berusia 24 tahun pun mengantar ayahnya ke rumah sakit terdekat dengan harapan bisa segera ditangani.

Namun sayangnya, ketika tiba di rumah sakit, staf medis setempat memberi tahu bahwa tidak ada kamar yang tersedia untuk merawat sang ayah.

"Para dokter mengatakan, 'tidak ada tempat tidur untuk pasien,' dan hanya itu," kata Ramos kepada CNN melalui telepon video dari rumahnya di Guayaquil.

"Jika kamu tetap di pintu mereka mengatakan mereka akan memanggil keamanan untuk mengusirmu," lanjut Ramos.

Tak berhenti sampai di situ, ia pun mencari kembali rumah sakit lain. Usai empat jam mengemudi, Ramos mengatakan ayahnya baru bisa dirawat di Rumah Sakit Umum Guasmo Sur. Rumah sakit tersebut adalah fasilitas kesehatan ke-11 yang sudah ia datangi.

Ramos juga mengatakan bahwa ayahnya menghabiskan waktu terakhirnya di sebuah ruangan dengan dua pasien yang sudah meninggal. "Kedua mayat itu ada di lantai," katanya.

"Yang satu dibungkus dengan tas hitam, tepatnya kantong sampah, dan yang lainnya mati di lantai. Tidak ada yang merawat mereka," lanjut Ramos.

Ramos keluar dari rumah sakit sekitar jam 9:30 pagi pada tanggal 1 April untuk mengambil sarapan, ia pergi selama 15 menit. Ketika dia kembali, ayahnya sudah meninggal dunia.

"Tidak ada yang bersamanya ketika dia meninggal," kata Ramos. Rumah sakit pun dilaporkan menolak mengomentari kasus ini.

Kematian dan lenyapnya jenazah ini menggambarkan bagaimana sistem perawatan kesehatan di kota terbesar kedua di Ekuador, runtuh dalam hitungan minggu setelah wabah Corona meledak pada bulan Maret. Banyak keluarga membuat pilihan untuk menempatkan orang yang dicintai di luar rumah karena takut akan infeksi virus Corona dan karena baunya tidak tertahankan.

"Orang yang benar-benar sakit datang ke rumah sakit, sekarat. Kamu cenderung melakukan satu, melakukan apa yang bisa kamu lakukan, kemudian orang itu meninggal, dan kamu pindah ke yang berikutnya, dan orang itu meninggal, dan terus seperti itu," kata dokter yang tidak ingin disebutkan namanya dalam wawancara bersama CNN.

"Pada satu titik ada puluhan mayat antara kamar rumah sakit dan kamar mayat yang menunggu untuk dibawa pergi," kata dokter tersebut. "Tidak ada kantong mayat yang tersisa."



Simak Video "Prediksi Ahli Infeksi Singapura soal Akhir Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)