Selasa, 08 Jun 2021 16:41 WIB

Kapok! Anggap COVID-19 Konspirasi, Pria Ini Hampir Meninggal Usai Tertular

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Ilustrasi pasien COVID-19. (Foto: iStock)
Jakarta -

Seorang pria berusia 34 tahun hampir meninggal usai terinfeksi COVID-19 yang dianggapnya sebagai teori konspirasi belaka. Sampai saat ini, ia masih dirawat di rumah sakit selama hampir lima bulan.

Pria bernama Graham Horsfall itu pertama kali dirawat di RS Warrington sejak 16 Januari lalu, setelah tertular virus Corona dan hampir tidak bisa berjalan. Meski tidak memiliki penyakit penyerta, ia diprediksi hanya memiliki peluang sebesar 16 persen untuk bertahan hidup.

Sebelum tertular COVID-19, Horsfall beserta keluarganya menganggap penyakit tersebut sebagai teori konspirasi. Ia berpikir itu hanya bagian dari rencana pemerintah untuk menahan semua orang untuk tetap berada di rumah.

"Saya dan anggota keluarga saya mengatakan di Facebook bahwa itu semua (COVID-19) konspirasi dan rencana pemerintah untuk menahan kita semua di dalam rumah dan mengatur ulang ekonomi," kata Horsfall yang dikutip dari Sky News, Selasa (8/6/2021).

Mulai mengalami gejala

Hingga pada Januari lalu, ayah dua anak tersebut harus mengisolasi diri di rumah setelah salah satu rekannya tertular COVID-19. Tetapi, tiga hari kemudian kondisi Horsfall semakin memburuk, 'terengah-engah', dan langsung dibawa ke rumah sakit.

"Tiba-tiba saya tidak bisa bernapas. Itu benar-benar menakutkan," ujar Horsfall.

"Saya panik saat itu. Hal terakhir yang saya lakukan adalah mentransfer uang kepada istri saya karena kondisinya sudah tidak baik," imbuhnya.

Bergantung hidup dengan mesin

Saat di rumah sakit, ia harus menggunakan ventilator dan dibius. Horsfall mengatakan saat itu hidupnya sudah bergantung pada mesin-mesin medis yang ada di RS.

Selama itu, Horsfall merasa ketakutan dan berpikir apa bisa pulih dari kondisi yang tengah dialaminya. Sampai akhirnya ia baru sadar pada pertengahan Februari, dengan kondisi yang semakin memburuk dan merasa bingung serta linglung.

Horsfall juga harus menjalani pembedahan untuk memasang pipa untuk saluran udara atau trakeotomi dan mengalami kelumpuhan otot. Saat itu ia hanya bisa menggerakkan satu tangannya saja.

"Saya tidak bisa menggerakkan lengan yang lain, tidak bisa menggerakkan kaki, menggerakkan tubuh. Saya benar-benar lumpuh," katanya.

Mulai membaik

Horsfall juga tidak bisa berbicara karena pipa trakeotominya. Ia baru bisa berbicara lagi pada 12 Maret setelah pipa tersebut dilepas dari tubuhnya.

Setelah empat bulan dirawat di ruang ICU, pada 25 Mei 2021 Hofsfall akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Ia mengungkapkan bahwa otot-ototnya kaku karena kurang bergerak, sehingga harus menjalani rehabilitasi dan fisioterapi setiap hari.

"Saya berjalan dengan alat bantu. Karena COVID-19, mungkin jarak terjauh yang saya masih bisa tempuh sekitar 15 meter saja. Setelahnya, saya merasa terengah-engah karena COVID-19 telah merusak paru-paru," jelas Horsfall.

Selama Horsfall dirawat, istrinya juga sempa tertular virus Corona dan mengalami gejala yang ringan. Itu membuatnya tidak bisa mengunjungi Horsfall di rumah sakit selama beberapa hari.

Baru-baru ini, Horsfall sudah melakukan vaksinasi COVID-19 dosis pertamanya. Ia melakukannya karena ia takut tidak akan selamat dan tertular virus lagi.

"Saya pikir mereka harus berhati-hati. Anda tidak akan bisa menyingkirkan (virus). Virus itu akan kembali lagi saat ia berevolusi dan bermutasi sebagai penyakit," pungkasnya.



Simak Video "Pfizer Uji Klinis Vaksin COVID-19 untuk Anak Usia 5-11 Tahun"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)