Senin, 22 Nov 2021 13:30 WIB

Pilu! RS Sibuk, Pasien COVID-19 Meninggal Dunia Sendirian di Bangsalnya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ilustrasi pasien di rumah sakit Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Seorang pasien virus Corona meninggal sendirian di kamar di sebuah rumah sakit usai alat bantuan pernapasannya terputus. Menurut laporan yang ada, pria tersebut sudah meminta bantuan, tetapi tidak terdengar.

Melihat kasus ini, pejabat kesehatan dan keselamatan mendesak pihak rumah sakit yang tidak disebutkan namanya untuk memastikan bahwa pasien yang membutuhkan jenis bantuan pernapasan harus dipantau secara ketat.

Pihak Health and Safety Investigation Branch (HSIB), sebuah lembaga penyelidikan independen terhadap perawatan yang didanai NHS di Inggris, mengungkapan kasus ini dialami oleh seorang pria bernama Terry berusia 73 tahun. Pria tersebut sudah dirawat di rumah sakit sejak Desember 2020 akibat COVID-19.

Meski selama dirawat diberi bantuan oksigen, tetapi kadar oksigen Terry terus menurun di bawah tingkat normal. Petugas medis pun memutuskan untuk menggunakan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP).

CPAP ini merupakan alat bantu pernapasan yang digunakan saat pasien bangun dan bisa bernapas sendiri. Biasanya ini diberikan melalui tabung, masker, atau tudung.

Untuk menghindari infeksi silang dengan pasien atau staf lain, Terry ditempatkan di ruang samping bangsal medis. Selama itu, kondisinya selalu dipantau secara teratur oleh tim medis. Bahkan Terry juga diperiksa oleh seorang dokter perawatan kritis.

Namun, naasnya di saat Terry meminta bantuan menggunakan bel panggilan, tidak ada yang mendengar. HSIB mengatakan saat itu bangsal sangat sibuk. Selain itu mereka kekurangan staf dan banyak pasien baru yang tiba di bangsal yang harus diprioritaskan.

Berdasarkan laporan tersebut, disebutkan bahwa ada seorang perawat yang menggunakan pakaian pelindung pribadinya siap memasuki kamar Terry. Namun, sebelumnya ia melihat ke dalam lewat jendela observasi.

"Dia (perawat) bisa melihat Terry terbaring tak bergerak di lantai. Mesin CPAP dan alarm lainnya yang biasanya digunakan untuk memberitahu staf soal adanya potensi masalah, tidak bisa terdengar di luar ruangan samping," tulis laporan tersebut yang dikutip dari Sky News, Senin (22/11/2021).

"Terry masih memakai masker CPAP di wajahnya, tapi selangnya terputus. Terry tidak menanggapi upaya resusitasi dan meninggal," lanjutnya.

Hasil dari investigasi HSIB ini menyoroti krisis yang terjadi di tengah melonjaknya kasus COVID-19 di beberapa bagian di dunia. Termasuk kesenjangan tenaga kerja dan tantangan dalam memberikan perawatan di luar area klinis normal.

"Banyaknya pasien dengan COVID-19 yang membutuhkan bantuan pernapasan berarti NHS harus beradaptasi dan memanfaatkan ruang dan sumber daya mereka sebaik mungkin untuk memenuhi permintaan dan meminimalkan risiko penyebaran infeksi," jelas peneliti nasional utama di HSIB.

"Ini menyoroti risiko keamanan di luar perawatan kritis dan area ketergantungan tinggi, dan terutama untuk pasien yang membutuhkan bantuan pernapasan seperti CPAP di kamar samping di bangsal umum," kata dia.

"Kami mendorong organisasi untuk memeriksa praktik mereka sendiri, dan bertindak berdasarkan panduan yang ada dan rekomendasi yang dihasilkan untuk memastikan perawatan yang paling aman bagi pasien di masa mendatang," pungkasnya.



Simak Video "Status Pandemi Dicabut WHO Bila Covid-19 di Sejumlah Benua Terkendali"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)