Dikira Sakit Tenggorokan Biasa, Ternyata Wanita Ini Idap Kanker Amandel

ADVERTISEMENT

Dikira Sakit Tenggorokan Biasa, Ternyata Wanita Ini Idap Kanker Amandel

Hana Nushratu - detikHealth
Rabu, 14 Des 2022 19:02 WIB
Ilustrasi Sakit Tenggorokan
Dikira sakit tenggorokan, seorang wanita di Inggris idap kanker amandel. (Foto: shutterstock)
Jakarta -

Sakit tenggorokan merupakan hal yang wajar dialami setiap orang pada saat tidak enak badan atau demam. Namun, tidak wajar bagi Lisa Gooddy (51).

Dikutip dari NY Post, wanita asal Inggris ini memang terbiasa hidup dengan sakit tenggorokan kronis. Hingga pada 2019, Gooddy menemukan bercak putih pada amandelnya. Dokter mendiagnosis bercak tersebut adalah batu amandel.

"Ada bercak putih di amandel saya dan saya pernah memiliki batu amandel di masa lalu, tetapi sayangnya saya tidak dirujuk pada saat itu. Karena mereka (dokter) mengira itu adalah batu amandel," ujar Gooddy kepada Kennedy News.

Setahun kemudian, Gooddy yang merupakan 'wanita cerewet' memperhatikan ada yang aneh pada suaranya. Ia kembali memeriksakan hal tersebut ke dokter. Alih-alih batu amandel yang bisa disembuhkan, Gooddy malah didiagnosis kanker amandel stadium 2.

"Saya merasa sangat lelah dan saya berpikir 'saya tidak dapat berbicara dengan siapapun'," kata Gooddy.

"Ini pasti efek dari kanker pada pita suara saya," bebernya.

Kelenjar getah bening Gooddy besar hingga menjadi 'raksasa'. Ketika Gooddy mengetahuinya, ia tidak merasa terkejut karena memang ada sesuatu yang aneh pada dirinya saat itu.

Ibu tiga orang anak ini kemudian menjalani kemoterapi dan terapi radiasi. Terapi tersebut menyebabkan kulit di lehernya meradang dan nyeri.

Radioterapi 'menghancurkan' kelenjar ludahnya yang menyebabkan mulut kering. Hal tersebut berpengaruh pada cara bicara dan kemampuan makannya yang benar.

"Salah satu efek samping yang sangat mengerikan dari perawatan ini adalah Anda tidak memiliki kelenjar air liur dan terus-menerus mengalami mulut kering," tutur Gooddy.

Kini, dia membawa air minum dan tablet kemanapun ia pergi. Gooddy juga terpaksa harus makan slop (bubur khusus orang sakit) lantaran dietnya dibatasi.

"Ini (kanker amandel) mempengaruhi banyak hal," ujar Gooddy.

"Jika saya pergi keluar, misalnya restoran, mungkin tidak ada menu yang tidak bisa saya makan karena saya tidak makan merica," lanjutnya.

Keluarga Gooddy merasa khawatir mereka tidak bisa makan di luar karena diet ketatnya. Sejak Gooddy didiagnosis, ia berhasil menurunkan 42 pon (19,05 kg) yang telah mempengaruhi kualitas hidupnya.

NEXT: Seperti Berada di Microwave

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT