Berkibarnya isu pangan organik yang menyehatkan dan lebih aman dikonsumsi, berimbas pada peningkatan produksi dan konsumsinya di beberapa negara.
Seiring dengan pola pikir masyarakat yang mulai fokus terhadap masalah kesehatan, pangan organik pun menjadi salah satu produk yang diburu oleh beberapa kalangan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menjawab pertanyaan tersebut, sebaiknya melihat kembali ke pengertian awal dari pangan organik.
Di dalam SNI 01-6729-2002 telah disebutkan bahwa pangan organik adalah pangan yang diproduksi sesuai dengan standar produksi organik dan disertifikasi oleh otoritas atau lembaga sertifikasi resmi.
Jadi, suatu pangan disebut 'organik' hanya jika menjalankan kaidah pangan organik, mulai dari budidaya, pasca panen, pengolahan, pelabelan hingga pemasaran.
Kaidah 'organik' disini maksudnya adalah menghindari penggunaan pupuk dan pestisida sintetis dan bahan-bahan eksternal lainnya yang tidak diizinkan.
Namun istilah 'organik' tersebut sebenarnya tidak menjamin bahwa produknya bebas sepenuhnya dari residu. Karena faktor polusi lingkungan pastinya ada, tetapi dikurangi semaksimal mungkin melalui standar pengolahannya yang diterapkan.
Meskipun telah digembar-gemborkan mengenai sehat dan bergizinya pangan organik, namun hingga saat ini penelitian yang membuktikan secara langsung perihal tersebut masih sangat jarang, dan bisa dibilang belum terbukti.
Bahkan Food Standards Agency (FSA) di Inggris yang dilansir dari BBCNews, pun menyatakan belum ada bukti ilmiah yang dapat mengklaim pangan organik lebih bergizi dibanding pangan biasa.
Pemerintah Inggris pun hanya menyebutkan bahwa pembelian pangan organik saat ini dijadikan sebagai pilihan gaya hidup atau 'lifestyle' untuk mendongkrak kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi sayur dan buah yang cukup.
Semakin masyarakat percaya bahwa pangan organik lebih sehat, maka intensitas mengonsumsi sayur dan buah-buahan pun semakin tinggi.
Namun sebuah penelitian yang dilakukan di Universitas Newcastle, Inggris melaporkan bahwa kentang, kiwi dan wortel yang dibudidayakan secara organik mengandung 40% antioksidan dalam bentuk vitamin C yang lebih banyak dibandingkan produk konvensionalnya.
Penelitian tersebut belum diterbitkan karena ada kecenderungan variasi mikronutrien yang berbeda-beda pada setiap bahan pangan. Hal tersebut masih dalam perdebatan, dan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan sebelum diambil kesimpulan bahwa pangan organik lebih bernutrisi.
"Pangan organik sebenarnya lebih berkaitan dengan masalah keamanan pangan itu sendiri, karena berkaitan dengan pestisida dan bahan kimia lainnya. Hal ini tidak bisa dikaitkan dengan masalah gizi atau nutrisi yang dihasilkannya," ujar Bambang Nurhadi, STP MSc, dosen dan ahli teknologi pangan dari Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran dalam perbincngannya dengan detikHealth .
Meskipun harga pangan organik yang dijual di pasaran terbilang mahal saat ini, namun cukup banyak masyarakat yang membelinya. Bambang pun menyatakan harga yang ditawarkan oleh pangan organik akan sebanding dengan kualitasnya jika benar-benar dibudidayakan sesuai standar organik.
Wajar saja jika pangan organik mahal, hal ini dikarenakan sistem produksinya pun membutuhkan pekerja yang lebih banyak dan penanganan yang lebih intensif.
Selain karena harganya yang mahal dan keterbatasan produk pangan organik di Indonesia, pangan konvensional saat ini akhirnya mau tidak mau masih menjadi pilihan konsumen.
"Saya mencoba berpikir positif saja, bahwa sayuran dan buah-buahan konvensional yang kita makan sehari-hari, masih mengandung residu dan bahan kimia dalam batas yang wajar dan aman dikonsumsi," ujar dosen yang menyelesaikan S2-nya di Universitas of New South Wales, Australia pada tahun 2004 tersebut.
(ir/ir)











































