Kenapa program bayi tabung begitu mahal? Benarkah program bayi tabung di negeri tetangga seperti Malaysia atau Vietnam lebih murah?
Ahli kandungan dari Klinik Yasmin RSCM, dr R Muharam SpOG (K) mengakui teknik rekayasa reproduksi ini memang memiliki sejumlah keunggulan dan kelemahan. Keunggulannya program ini dapat memberikan peluang bagi pasangan infertil (mandul) untuk punya anak. Namun kelemahannya tingkat keberhasilannya masih rendah antara 30-50 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dr Muharam memang tingkat keberhasilan program bayi tabung belum tinggi karena banyak faktor yang menyebabkannya. "Kalau pasien tahu kegagalan yang tinggi biasanya bisa menerima, tapi kalau digembor-gemborkan keberhasilannya tinggi dia akan syok kalau gagal," tutur dr Muharam.
Program bayi tabung adalah salah satu teknik rekayasa reproduksi yang disebut juga fertilisasi in vitro (FIV). Proses FIV ini mempertemukan sperma suami dengan ovum atau sel telur istri di luar hingga tercapai pembuahan.
Pada prinsipnya keberhasilan program bayi tabung sekitar 40-50% tetapi hal ini akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Pada wanita di bawah 30 tahun peluangnya mencapai 50%, sedangkan usia 30-35 tahun peluangnya 35%, usia 40 tahun keberhasilan program bayi tabung menjadi sekitar 10-15%, sementara di atas usia 40 tahun peluangnya tinggal 8%.
Secara umum, tutur dr Muharam, makin muda usia makin baik hasilnya. Kemungkinan terjadinya kehamilan juga tergantung pada embrio yang berhasil dipindahkan ke rahim. Walaupun makin banyak jumlah embrio yang dipindahkan akan meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan, tapi kemungkinan terjadinya kehamilan bayi kembar dengan masalah yang berhubungan dengan kelahiran prematur juga lebih besar.
"Kualitas embrio ditentukan sel telur dari ibu dan usia produksi menurun sejak 35 tahun," katanya.
Untuk suami yang diperiksaan adalah kualitas maupun kuantitas spermanya dengan jumlah ideal di atas 20 juta per cc. Sedangkan pemeriksaan pada istri apakah sel telurnya keluar atau tidak dengan memperhatikan 3 faktor utama untuk kehamilan yaitu indung telur, saluran telur, dan rahim yang semuanya harus berfungsi.
Dalam pembuatan bayi tabung, sel telur dan sperma di pertemukan dalam sebuah cawan. Sel telur diletakkan dicawan kemudian disemprot sperma lalu cawan dimasukkan dalam inkubator yang mempunyai suhu dan kelembaban seperti di dalam rahim.
Baru kemudian pembuahan berupa embrio akan terjadi setelah disimpan 2-3 hari. Embrio itu selanjutnya dipindahkan ke rahim ibu melalui vagina sebanyak 3-4 embrio.
"Kalau embrio yang jadi ada 8 maka 4 embrio akan dimasukkan ke dalam rahim dan sisanya dimasukkan dalam cryopreservation (ruang simpan beku) yang bisa disimpan hingga 1 tahun ke depan. Embrio ini disimpan agar kalau gagal bisa digunakan lagi tanpa perlu lagi mengambil sel telur sehingga biayanya bisa ditekan," tutur dr Muharam.
Dalam proses penanaman embrio inilah menurut dr Muharam yang kerap terjadi kegagalan karena penanaman embrio di rahim tergantung kemampuan rahim menangkap embrio. Komunikasi embrio dengan rahim kadang tidak berjalan karena ada infeksi atau mioma uteri, polip dan kista.
Nah kalau sudah begitu biasanya pasien dianjurkan untuk mengulang. Proses mengulang inilah yang juga salah satu yang membuat biaya membengkak. Belum lagi si ibu harus minum obat-obatan hormon. Jika biaya rata-rata di Indonesia sebesar Rp 35-50 juta, bisa jadi karena proses mengulang itulah yang membuat biaya juga bertambah.
Diakui dr Muharam banyak calon pasangan yang akan mengikuti program bayi tabung terutama di daerah Sumatra dan Kalimantan yang memilih Malaysia, dan Vietnam karena biayanya lebih murah.
"Disana lebih murah karena obat-obatnya disubsidi sedangkan disini bea masuk obat-obatnya tinggi yang membuat harganya mahal, memang perlu dicarikan solusi bagaimana menekan biaya," katanya.
Tak hanya biayanya yang mahal, faktor psikologis si ibu juga harus diperhatikan karena proses bayi tabung memang memakan waktu. Si ibu juga harus minum obat-obat hormon atau disuntik.
"Kalau ikut bayi tabung jangan patah semangat, ada yang sampai enam kali baru berhasil karena setiap kegalalan akan diketahui apa yang menyebabkan proses sebelumnya gagal," pungkas dr Muharam. (ir/fah)











































