Saat Diabetes Menyerang Saraf

Saat Diabetes Menyerang Saraf

- detikHealth
Rabu, 02 Des 2009 10:03 WIB
Saat Diabetes Menyerang Saraf
Jakarta - Ny H (65 tahun) datang ke ruang praktek neurolog. Ibu H mengeluhkan nyeri di ujung-ujung kaki sejak 3 bulan yang lalu. Nyeri dirasakan seperti terbakar dan ditusuk-tusuk. Nyeri memberat pada malam hari, dan sangat mengganggu tidur.

Nyeri tidak membaik dengan obat anti sakit yang dibeli di warung. Nyeri dirasakan semakin memberat seiring dengan berjalannya waktu. Ibu H merupakan penderita diabetes sejak 8 tahun yang lalu.

Kadar gulanya seringkali tidak terkendali karena ketidakteraturan berobat. Dokter memeriksa Ibu H, dan setelah selesai memeriksa Ibu H dokter menjelaskaan 'tampaknya diabetes Ibu telah menyebabkan kerusakan pada saraf'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cerita diatas adalah kisah nyata seorang pasien dengan diabetes melitus yang datang dengan gejala kerusakan saraf tepi akibat diabetes, yang disebut neuropati diabetika.

Komplikasi diabetes dapat bervariasi mulai dari retina (retinopati diabetika), ginjal (nefropati diabetika), gerakan usus (gastropati diabetika), pembuluh darah (angiopati), sampai dengan saraf terpi.

Ilustrasi di atas menunjukkan suatu gambaran klinis neuropati diabetika. Neuropati diabetika pada umumnya muncul lambat dan memiliki progresivitas yang lambat pula. Gejala yang muncul adalah hilangnya sensasi atau rasa yang bersifat dominansi di ujung-ujung jari.

Neuropati diabetika merupakan salah satu komplikasi diabetes yang utama. Sebuah penelitian di Australia pada 2.436 pasien dengan diabetes memperlihatkan bahwa 13,1% pasien memiliki neuropati perifer/kerusakan pada saraf tepi (Tapp, dkk, 2003).

Gejala nyeri merupakan keluhan yang umum dijumpai pada pasien dengan neuropati diabetika. Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa nyeri dijumpai pada 7-13% kasus neuroapti diabetika pada saat awal diagnosis.

Prevalensi nyeri dan paraestesia atau kesemutan meningkat seiring dengan lamanya menderita diabetes melitus. Rasa nyeri yang sering digambarkan adalah nyeri terbakar, seperti ditusuk-tusuk, bersifat paroksismal. Hiperalgesia (nyeri hebat akibat stimulus nyeri ringan) dan allodinia (rasa nyeri akibat rangsang bukan nyeri).

Penelitian di Amerika Serikat memperlihatkan bahwa 10-20% pasien saat ditegakkan diagnosis diabetes telah mengalami neuropati, dan prevalensi tersebut meningkat menjadi 50% pada pasien yang telah menderita DM > 25 tahun (Partanen, dkk, 1995). Prevalensi neuropati diabetika adalah kurang lebih 30% dari seluruh penderita DM (De Cherney, 1997, Echeverry dan Sherman, 2003).

Dari semua kasus diabetes, neuropati diabetika sebagai komplikasi diabetes juga dikatakan sebagai penyebab utama pasien menjalani rawat inap di rumah sakit, dan juga sebagai penyebab utama pasien menjalani amputasi di luar trauma.

Setiap tahun, di Amerika Serikat terdapat 80.000 kasus yang menjalani amputasi akibat neuropati diabetika atau 1 amputasi setiap 2 menit (Vinik, 2002). Nyeri Neuropati (rasa nyeri akibat kerusakan saraf) diperkirakan diderita oleh 1% dari total populasi dan 1/3 diantaranya adalah ND (Bennet, 1997).

Dari total penderita diabetes, 7,5% diantaranya menderita nyeri neuropati (Nash, 1997). Deskripsi nyeri neuropati diabetika ditandai dengan rasa terbakar (burning), rasa ditikam, kesetrum, disobek, diikat, rasa baal, dan kesemutan.

Gejala positif atau gejala negatif

Kerusakan serabut saraf pada umumnya dimulai dari distal/ujung menuju ke proksimal/pangkal, sedangkan proses perbaikan mulai dari proksimal ke distal. Oleh karena itu pada umumnya pasien mengeluhkan rasa baal atau nyeri pada ujung-ujung jari kaki (Vinik, 2002). Dibandingkan dengan serabut saraf dengan diameter besar, terlihat bahwa pada awalnya yang lesi adalah serabut saraf kecil (De Cherney, 1999).

Penderita nyeri neuropati dengan keluhan nyeri yang berat (terutama pada kaki) umumnya menunjukkan kelainan neurologik yang ringan berupa gangguan sensorik bagian distal kaki sedangkan refleks masih dalam batas normal. Pasien yang mengalami kerusakan saraf tanpa nyeri sering menunjukkan gejala neurologik seperti refleks yang negatif (Scadding, 1999). Hal ini berarti bahwa kerusakan saraf pasien dengan nyeri lebih ringan daripada pasien tanpa nyeri.

Apakah hal tersebut sesuai dengan dinamika proses degenerasi, masih menjadi pertanyaan. Fungsi serabut saraf adalah sebagai penghantar impuls. Adanya gangguan fungsi penghantar impuls memacu atau mengaktivasi program survival atau kematian. Dengan demikian dapat dimengerti, bila lesi yang diderita pasien cukup berat maka yang aktif adalah program kematian neuron.

Kematian neuron menyebabkan timbulnya gejala negatif dari sistem saraf seperti gangguan sensorik dengan manifestasi berupa rasa baal, rasa tebal, anestesi, gangguan motorik berupa kelumpuhan atau gangguan otonom berupa impotensi.

Akan tetapi bila lesi ringan, maka terjadi degenerasi akson (survival response). Respon ini menyebabkan terjadinya perubahan fenotip untuk mempersiapkan proses regenerasi. Proses regenerasi menimbulkan distorsi dari signal, seperti munculnya reseptor, saluran ion baru, sprouting ujung saraf dengan neuromanya, yang kesemuanya dapat menimbulkan nyeri.

Proses tersebut terbukti pada pemeriksaan biopsi saraf pada penderita neuropati dengan nyeri berat, dimana tampak adanya degenerasi serabut saraf afferen yang dengan atau tanpa mielin dengan tunas-tunas barunya (sprouting) (Scadding, 1999). Tunas baru yang tumbuh ini dapat memunculkan nyeri.

Apa yang dapat dilakukan?


Prinsip utama penatalaksanaan nyeri neuropati diabetika adalah pengendalian kadar gula darah. Pengendalian kadar gula darah akan menghambat progresivitas neuropati diabetika. Penelitian pada 1.441 pasien dengan diabetes tipe 1 menunjukkan bahwa pengendalian kadar gula darah efektif untuk memperlambat progresivitas neuropati diabetika.

Terapi lain yang umum digunakan untuk mengatasi nyeri adalah anti depresan dan anti konvulsan/ obat anti epilepsi. Anti konvulsan mempunyai kemampuan untuk menekan kepekaan abnormal dari neuron-neuron di sistem saraf sentral yang menjadi dasar bangkitan epilepsi (Chong and Smith, 2000).

Epilepsi dan nyeri neuropatik sama-sama timbul karena adanya aktivitas abnormal sistem saraf. Epilepsi dipicu oleh hipereksitabilitas sistem saraf sentral yang dapat menyebabkan bangkitan spontan yang paroksismal, dan hal ini sama dengan kejadian nyeri spontan yang paroksismal pada nyeri neuropatik.

Stress dan kecemasan akan membuat sistem penghambatan nyeri tidak bekerja dengan baik. Depresi akan menambah penderitaan dan intensitas nyeri. Modifikasi perilaku dan penghiburan merupakan salah satu bentuk terapi yang harus pula dilakukan.



Penulis

dr Rizaldy Pinzon, MKes. SpS
Bekerja dan tinggal di Yogyakarta
www.strokebethesda.com
medidoc2002@yahoo.com

(ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads