Obat Murah Belum Tentu Berbiaya Murah Bagi Pasien

Obat Murah Belum Tentu Berbiaya Murah Bagi Pasien

- detikHealth
Selasa, 12 Jan 2010 18:00 WIB
Obat Murah Belum Tentu Berbiaya Murah Bagi Pasien
Jakarta - Memilih obat jangan hanya dilihat dari harganya per tablet. Karena obat yang harganya per tablet belum tentu jatuhnya ke pasien juga lebih murah. Maka itu cermatlah dalam memilih obat sehingga tidak berat di ongkos dan bisa efektif bagi kesehatan si sakit.

Belanja kesehatan Indonesia setiap tahun bertambah, tapi hasil yang didapatkan belum semaksimal yang diharapkan. Parameter ini bisa dilihat dari tingginya angka kematian bayi dan ibu, serta belum adanya pemerataan pelayan kesehatan di masyarakat.

Salah satu hal yang berhubungan dengan pengeluaran kesehatan adalah pemilihan obat. Banyak orang menduga obat murah tidak efektif digunakan sedangkan obat mahal memberikan pengeluaran lebih banyak. Untuk itu diperlukan sistem cost effective untuk melihat obat mana yang terbaik untuk dikonsumsi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebenarnya yang harus dicari bukan saja obat yang termurah, tapi obat termurah untuk hasil yang terbaik itulah yang disebut dengan cost effective. karenanya belum tentu obat murah itu tidak efektif dan belum tentu juga obat yang harga satuannya mahal itu boros pengeluarannya," ujar Prof. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH dalam acara Kendalikan Biaya Kesehatan dengan evaluasi Ekonomi, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (12/1/2010).

Prof Hasbullah mengatakan untuk menetukan efektifitas dari obat harus ada out come research yaitu kaitan antara pengobatan dengan hasil yang didapatkan dalam arti berapa lama orang yang sakit ini bisa aktif atau produktif kembali setelah sembuh.

Misalnya obat A harganya lebih murah tapi hanya bisa mencapai kesembuhan sebesar 10 persen, sedangkan obat B harga satuannya lebih mahal tapi bisa menyembuhkan lebih cepat. Sehingga jika ditotal semua biaya pengobatan sampai orang tersebut benar-benar sembuh bisa lebih murah obat B.

"Dibutuhkan adanya bukti penelitian (out come research) yang menunjukkan efektifitas dari obat, sehingga masyarakat bisa tahu obat mana yang efektif digunakan untuk sakit tertentu," ujar pakar ekonomi kesehatan dari FKM UI.

Sementara Ketua departemen farmako-terapi dari Universitas Utah, AS, Diana I. Bixter, RpH, PhD menuturkan tingginya populasi dan minimnya alokasi pembiayaan kesehatan di negara-negara berkembang mengharuskan adanya analisa mengenai efektifitas dan efisiensi dalam hal kesehatan.

"Dengan adanya konsep ekonomi kesehatan, bisa membantu menghemat biaya kesehatan secara berkualitas dan tepat guna," ujarnya.

Konsep ini juga disambut baik oleh PT Askes Indonesia, karena berdasarkan piramida usia didapatkan orang berusia lanjut semakin banyak sehingga risiko sakit akibat penyakit kronis semakin tinggi.

Obat yang digunakan bagi peserta Askes sendiri bukanlah obat murah, karena obat ini diseleksi oleh tim ahli independen untuk melihat efikasi dan keselamatannya.

"Obat yang masuk ke Askes ini mutunya terjamin dan bukan obat murahan. Karena ditentukan oleh tim ahli obat mana yang bisa masuk, lalu askes melakukan negosiasi dengan produsen obat tersebut untuk bisa mendapatkan diskon sehingga harganya lebih murah dibandingkan harga pasar," ujar Dr.Umbu M.Marisi, M.Ph.,HIA, direktur operasional Askes Indonesia.

Sampai saat ini baru ada 1.400 dari sekitar 15.000 obat yang masuk Askes dan 84 dari 209 produsen obat yang bekerja sama dengan Askes. Ini dikarenakan tidak semua obat yang beredar di pasar efektif dan aman karena belum ada bukti ilmiahnya.

Di Indonesia sistem ekonomi kesehatan seperti ini belum bisa diterapkan, karena belum ada bukti ilmiah yang cukup dari semua obat yang beredar di Indonesia. Untuk itu akan diadakan pelatihan terhadap dokter, farmakologi, apoteker dan pihak-pihak yang terkait untuk menentukan obat mana yang efektif pada penyakit tertentu.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads