Yang 'Terbuang' di Panti Jompo

Yang 'Terbuang' di Panti Jompo

- detikHealth
Selasa, 13 Apr 2010 10:14 WIB
Yang Terbuang di Panti Jompo
Jakarta - Tua di panti jompo bukanlah hal yang tabu untuk kehidupan di kota-kota besar. Dengan kesadaran sendiri atau keluarga, kini banyak orang lanjut usia yang memilih tua di panti jompo. Tapi yang mengenaskan jika tua di panti jompo karena 'terbuang' dari keluarga.

Tengoklah Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Bina Mulia 1 Cipayung. Kebanyakan lansia yang menghuni panti jompo ini bukan dari kalangan orang berpunya. Sebagian datang dari jalanan karena dirazia, sebagian lagi karena tak punya keluarga atau keluarganya sudah tak peduli, dan ada lagi karena tak ingin merepotkan keluarganya yang tak mampu.

Tapi bagi penghuni panti jompo ini, hidup terus berjalan. Para penghuninya begitu ikhlas menjalani masa-masa tua dengan orang-orang senasib sampai ajal menjemput.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penghuni panti ini dibebaskan beraktivitas selama masih di kawasan panti. Aneka polah lansia bisa disaksikan, ada yang melamum di taman seperti ibu Wati yang dulunya seorang pembantu, entah apa yang sedang dipikirkannya. Ada juga yang tidur-tiduran karena sudah sangat pikun atau mengerjakan prakarya.

Salah satu penghuni panti adalah Abdulah Karim (67 tahun), pria asli Sulawesi tapi kemudian lama bermukim di Cilegon. Pria yang lebih akrab dipanggil Kakek Karim ini adalah mantan pelaut yang mengaku pernah ditugaskan selama 6 bulan di Papua pada masa operasi Trikora.

Di Sulawesi ia sudah tidak punya sanak saudara, sementara dari pernikahan pertamanya tidak dikaruniai anak. Sedangkan dari pernikahan kedua dari istri yang di Cilegon, si kakek memiliki 2 anak yang saat ini sudah tidak pernah ada kontak lagi.

Bermula ketika tahun 1993, ia kehilangan kaki kirinya setelah diamputasi akibat jatuh dari tangga saat bekerja di sebuah kapal tanker. Ketika usianya beranjak tua, ia merasa kondisinya makin membebani keluarga dan memutuskan untuk tinggal di panti jompo.

Berbekal surat keterangan tidak mampu, tahun 2008 ia mengajukan diri untuk tinggal ke Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Bina Mulia 1 Cipayung. Sejak itu ia diasuh dan dibina oleh Panti yang berada di bawah naungan Dinas Sosial DKI Jakarta tersebut.

Tidak dipungut biaya

Karena dikelola oleh Pemda DKI Jakarta, pendanaan panti yang terletak di Jl Raya Bina Marga RT 007/06 No. 58, Cipayung Jakarta Timur ini diambilkan dari APBD. Sebagian dari para donatur, dan sebagian lagi merupakan sumbangan spontan dari masyarakat atau organisasi sosial yang sifatnya tidak mengikat.

Penghuni panti sama sekali tidak dipungut biaya, dan karenanya ada persyaratan tertentu yang harus dipenuhi untuk bisa masuk ke PSTW Budi Mulia 1. Persyaratannya adalah:
  1. Warga DKI
  2. Usia di atas 60 tahun
  3. Terlantar karena tidak punya atau tidak diurus keluarga
  4. Berasal dari keluarga tidak mampu, dibuktikan dengan surat keterangan dari kelurahan
  5. Sehat jasmani dan rohani saat masuk panti

Apabila sakit saat berada di panti, maka biaya pengobatan akan ditanggung. Saat matanya mengalami katarak sekitar satu tahun yang lalu, Kakek Karim juga mendapat perawatan gratis hingga operasi.

Penghuni panti juga banyak yang datang dari jalanan. Mereka dijaring dari operasi penertiban, dan tidak mungkin dipulangkan karena tidak memiliki keluarga. Kriterianya sama, usianya di atas 60 tahun dan sehat jasmani dan rohani.

Dibina

Tidak hanya ditanggung biaya perawatannya, di panti ini para lansia juga dibina. Panti memfasilitasi berbagai kegiatan pembinaan jasmani dan rohani.

Pembinaan rohani antara lain berupa pengajian rutin bagi yang beragama muslim, yang digelar setiap hari Senin, Kamis dan Jumat pukul 14.00 WIB. Pembinaan jasmani berupa senam lansia, dilaksanakan setiap hari Selasa dan Jumat.

Tentunya tidak semua penghuni bisa mengikuti kegiatan tersebut, karena banyak yang sudah terlalu pikun untuk berkegiatan. Pengamatan detikhealth pada Senin siang (12/4/2010), pengajian di mushola hanya diikuti 5-6 orang saja.

"Tidak bisa dipaksakan, ibadah adalah hal yang sangat personal. Yang jelas kami telah menghimbau dan memfasilitasi adanya kegiatan semacam ini," ujar Sobhirin, Kepala Seksi Bimbingan dan Penyaluran di panti tersebut.

Selain itu ada juga pembinaan keterampilan, yang dilaksanakan setiap hari pada jam-jam istirahat. Buah karya yang antara lain berupa sulaman taplak dan keset sekaligus jadi sumber pendanaan, karena bisa dijual kepada pengunjung.

Kapasitas

Daya tampung panti ini sebenarnya hanya untuk 100 orang, namun saat ini ditempati oleh 108 orang lansia. Mereka tinggal di 5 wisma, yang terdiri dari 1 wisma putra dan 4 wisma putri.

Satu wisma didampingi oleh 2 orang pengasuh yang disebut dengan pramusosial. Jumlahnya memang terbatas, namun untuk saat ini terbantu oleh keberadaan 25 mahasiswa Ilmu Keperawatan UI yang menjalankan kerja praktik di tempat itu.

Klinik yang terdapat di panti ini juga hanya diasuh oleh seorang perawat, sementara dokter dari Puskesmas datang hanya sekali dalam seminggu. Memang hanya melayani gangguan ringan seperti masuk angin dan pegal-pegal, karena jika sakit parah akan langsung dibawa ke rumah sakit.

Apabila PSTW Budi Mulia 1 sudah tidak sanggup menampung, masih ada 4 panti serupa di lingkungan Pemerintah DKI. Keempatnya adalah:

1. PSTW Budi mulia 2 (Jl. Cenderawasih X/8 Cengkareng, Jakarta Barat)
2. PSTW Budi Mulia 3 (Jl. Raya Ciracas Jakarta Timur)
3. PSTW Budi Mulia 4 (Jl. Margaguna, Jakarta Selatan)
4. PSTW Budi Mulia 5 (Jelambar, Jakarta Barat). (up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads