Sebaliknya publik merasa harus tahu tentang kesehatan sang presidennya dengan tujuan yang berbeda-beda. Tapi sebenarnya perlukah kondisi kesehatan presiden dipublikasikan?
Menurut dr Umar Wahid Sp.P yang pernah menjabat Ketua Tim Dokter Kepresidenan di era Presiden Gus Dur, tidak ada ketentuan khusus yang mengatur batasan-batasan tersebut. Informasi kesehatan seperti apa yang perlu dipublikasikan, sangat tergantung pada situasi.
"Karena dampaknya akan sangat luas, sebaiknya masyarakat perlu tahu. Meskipun hanya flu, asal yang bersangkutan tidak keberatan maka dokter boleh mengumumkan," ungkap dr Umar saat dihubungi detikHealth, Rabu (21/7/2010).
Memang ada jaminan kerahasiaan kesehatan tentang kepala negara. Seperti di Indonesia diatur dalam UU nomor 36/2009 tentang Kesehatan dan berlaku bagi siapapun termasuk pejabat dan kepala negara.
Namun dalam undang-undang itu disebutkan pada kondisi tertentu informasi tersebut bisa dipublikasikan, antara lain jika:
- Ada perintah dari pengadilan atau undang-undang
- Yang bersangkutan tidak keberatan
- Menyangkut kepentingan masyarakat
- Menyangkut kepentingan orang tersebut.
Tapi menurut dr Umar Wahid salah satu kodisi yang tidak boleh ditutup-tutupi adalah jika kepala negara diisukan kritis, seperti yang terjadi di Mesir baru-baru ini.
Dalam situasi seperti di Mesir lanjut dr Umar, informasi yang jelas dan tegas harus disampaikan agar tidak simpang siur.
Ia mencontohkan pengalamannya dalam menangani Gus Dur, presiden yang juga merupakan kakak kandungnya tersebut. Pada saat itu, Gus Dur menyerahkan sepenuhnya kepada tim dokter, informasi apa saja yang harus dipublikasikan.
Di samping karena sifatnya yang memang relatif terbuka, Gus Dur pada saat menjabat sebagai presiden tidak mengalami sakit serius yang dapat mengancam jiwanya. Oleh karena itu, dr Umar mengaku tidak pernah merahasiakan kondisi kesehatan sang kepala negara.
Diberitakan Reuters, Mesir telah membantah pemberitaan media massa di Amerika bahwa presiden Hosni Mubarak berada dalam kondisi kritis dan tidak akan bertahan hidup lebih dari 1 tahun karena kanker di seputar perut dan pankreas. Kabar ini beredar setelah Hosni menjalani operasi kelenjar empedu di Jerman awal bulan ini.
Rumor tersebut sempat mempengaruhi pasar saham, mengingat Hosni belum menunjuk calon pengganti. Ia bahkan tidak mempunyai wakil presiden, jabatan yang ia tempati sebelum menggantikan presiden Anwar el-Sadat yang tewas terbunuh pada 1981.
(up/ir)











































