Sekolah khusus anak-anak yang kesulitan belajar itu salah satunya adalah SD Pantara yang berlokasi di kawasan Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta.
Anak-anak yang sekolah di SD Pantara ini umumnya memiliki tingkat kecerdasan (IQ) normal atau bahkan di atas rata-rata tapi susah untuk belajar seperti anak-anak kebanyakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perbedaan dengan sekolah biasa, di tempat ini anak-anak tersebut belajar dengan gaya yang tidak kaku. Guru akan mendampingi setiap gaya belajar anak apakah audio, visual atau kinestetik (belajar dengan bergerak).
Sebelum pelajaran inti dimulai guru akan membuka kelas konseling. Saat sesi ini anak-anak dipancing untuk menjadi interaktif dan berani mengeluarkan pendapat.
Sebelumnya anak-anak ini telah membuat kesepakatan dengan gurunya bahwa ia sudah siap untuk duduk yang tertib, mendengarkan, mengerjakan tugas dan bertanya.
Konseling di kelas 3 SD Pantara ini seperti pantauan detikHealth, Rabu (4/8/2010) diajarkan ibu guru Vitriani Sumarlis, Psi, Msi. Kelas ini hanya berisi 7 anak yang kebetulan semuanya laki-laki.
Ibu Vitri memberikan tugas pada anak-anak untuk mencari perbedaan dirinya dengan salah satu temannya. Seorang anak menulis nama Upin dan Ipin sebagai teman yang akan dinilainya padahal di kelas tersebut tak ada nama Upin dan Ipin. Guru pun memberikan penjelasan pada muridnya bahwa ia harus mencari perbedaan pada teman yang ada di kelasnya dan bukan orang lain.
Guru kemudian meminta setiap anak untuk menceritakan tentang diri temannya yang tujuannya agar anak mampu belajar mendeskripsikan sesuatu, kemudian teman lainnya akan menilai apakah benar atau salah dengan faktanya.
Anak yang menilai akan mengatakan teman yang didepannya hidungnya mancung, matanya bulat yang lalu dibenarkan teman-temannya. Tapi ketika si anak mengatakan teman didepannya kulitnya sawo matang dan agak hitam, si anak yang dinilai pun protes.
"Kulit saya tidak hitam, dulu kulit saya agak sedikit putih lalu ayah saya mengajak pergi ke pantai dan saya lupa pakai lotion," jawaban si anak yang dinilai yang tentu saja membuat sang guru tersenyum.
Perbincangan yang diajukan sangat beragam karena intinya memancing anak berpendapat dan berinteraksi. Saat mengetahui ada wartawan detikHealth yang meliput ibu guru pun bertanya, siapa yang tahu profesi wartawan itu apa.
Salah satu anak menjawab, "Saya tahu, wartawan itu yang suka demo kan bu", sambil mengangkat tangannya seolah-olah sedang membawa sebuah pamplet demo. Guru pun akan langsung menjelaskan bahwa wartawan itu orang yang mencari berita, dan nanti beritanya ada di internet.
"Ada yang tahu tidak internet itu apa?", satu anak menjawab, 'Fesbuk bu'. Guru pun kembali menjelaskan tentang internet itu apa.
Begitulah contoh konseling yang dilakukan selama 15-30 menit. Tujuannya memang membuat anak-anak antusias, yang diharapkan dengan semangat itu anak-anak siap untuk belajar pelajaran inti lainnya. Awal sekolah adalah pagi yang seru buat anak-anak SD Pantara.
Sekolah Pantara yang didirikan 1 Agustus 1997, memang mengkhususkan diri dalam pendidikan untuk anak-anak berkesulitan belajar spesifik (specific learning difficulties/LD) atau sering disebut sebagai anak yang memiliki gaya belajar berbeda (learning diffierences).
"Sebelum anak masuk ke sekolah ini ada beberapa tes yang harus dilakukan, yaitu tes kecerdasan (IQ), kemampuan umum dan sudah sejauh mana progres atau kemampuan yang dimiliki oleh anak tersebut," ujar Vitriani Sumarlis, MSi, Psi, seorang psikolog di SD Pantara, saat ditemui detikHealth, Rabu (4/8/2010).
Vitri menuturkan bahwa anak dengan kesulitan belajar tidak memiliki masalah lainnya, karena pada umumnya logika dari anak ini tidak masalah dan si anak bisa bergaul atau bersosialisasi dengan teman-temannya.
Sedangkan risiko anak mengalami kesulitan belajar sudah bisa terlihat sejak anak berusia 3-4 tahun, meskipun secara definisi kesulitan belajar ini baru akan terlihat mulai usia 7 tahun.
Karenanya Yayasan Pantara ini juga memiliki kelas intervensi dini. Di kelas intervensi dini ini bisa diketahui apakah seorang anak memiliki disleksia atau tidak, sehingga nantinya bisa diarahkan lebih lanjut lagi.
Biasanya orangtua akan membawa anaknya ke sekolah, lalu psikolog akan melakukan tes pada si anak untuk menentukan apakah anak memiliki kesulitan belajar atau tidak.
"Di SD Pantara ini dalam satu tahun ajaran ada sekitar 40-50 murid, karena hanya dibatasi satu kelas maksimal terdiri dari 10 anak dan didampingi oleh dua orang guru," ungkapnya.
Kelas yang paling banyak muridnya adalah kelas 3 dan 4, karena beberapa anak ada yang sebelumnya sempat sekolah di SD umum dan baru pindah ke SD Pantara saat kelas 3 atau 4. Ada juga beberapa anak yang melanjutkan ke sekolah umum setelah menempuh hingga kelas 3 dan 4. Anak yang akan menempuh sekolah umum biasanya sudah lulus tes dan dinyatakan sudah bisa masuk ke sekolah umum.
"Kurikulum yang kita gunakan sama dengan sekolah umum, jadi anak-anak yang lulus bisa meneruskan sekolahnya ke SMP umum. Tapi biasanya anak-anak mengalami beberapa masalah karena membutuhkan masa transisi," ujarnya.
Vitri menuturkan masalah yang timbul bisa karena adanya gejolak masa remaja, baru lepas dari sekolah Pantara dan juga anak-anak harus menghadapi bidang studi yang lebih banyak. Karenanya anak harus lebih sering mengulang pelajaran dan orangtua tetap harus membimbingnya.
Biaya yang harus dikeluarkan menurut Vitri tidak terlalu mahal. Jika dibandingkan dengan sekolah umum menengah ke atas, maka SD Pantara masih lebih murah. Salah satu hal yang membuat biaya disini sedikit lebih tinggi karena 10 anak didampingi oleh 2 orang guru.
Guru yang mengajar di sekolah inipun harus melalui beberapa tes dan biasanya diusahakan memiliki latar belakang sarjana pendidikan luar biasa. Guru ini pun harus mengenal dasar dari anak-anak yang akan diajarnya dan mendapatkan beberapa pelatihan. Saat ini terdapat sekitar 20 guru yang mengajar di SD pantara.
"Kalau di sekolah umum biasanya anak-anak yang harus fokus pada gurunya, tapi disini guru harus memberikan pendekatan pada muridnya karena setiap anak memiliki gaya belajar tersendiri," ujar Harti Sulastri yang sudah mengajar di SD Pantara sejak 2006.
Harti menuturkan yang dibutuhkan oleh guru disini adalah konsisten dalam memberikan pelajaran dan juga dilakukan remedial untuk pelajaran yang sudah dipelajari hari itu. Karena anak yang memiliki kesulitan belajar spesifik harus sering mengulang-ngulang pelajaran yang sudah diterimanya.
Sekali lagi, anak-anak yang memiliki kesulitan belajar spesifik tetap bisa belajar dengan baik, karena ia hanya membutuhkan gaya belajar yang berbeda dibandingkan anak-anak pada umumnya.
(ver/ir)











































