Semangat Juang Dokter Muda di Tanah Papua Barat

Semangat Juang Dokter Muda di Tanah Papua Barat

- detikHealth
Kamis, 19 Agu 2010 16:15 WIB
Semangat Juang Dokter Muda di Tanah Papua Barat
Jakarta - Orang muda yang baru lulus kuliah biasanya lebih senang bekerja di kota dengan segala macam fasilitasnya yang nyaman. Tapi tidak buat dr Rivaldi Dominggus Liligoly, menjadi dokter muda adalah mengabdi untuk membantu masyarakat di Papua agar bisa mendapatkan derajat kesehatan yang baik.

Sudah 4 tahun usai tamat dari Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) dr Rivaldi bekerja di puskesmas di daerah yang sangat terpencil di pelosok Manokwari.

Dan semenjak 9 bulan lalu ia dipindah ke puskesmas kabupaten di Puskesmas Sanggeng kabupaten Manokwari, Papua Barat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak mudah memang menjadi dokter di suatu daerah terpencil seperti di Propinsi Papua Barat. Berbagai pengalaman suka dan duka dilalui dokter muda yang kini berusia 30 tahun ini.

Alam Manokwari yang belum terjangkau infrastruktur kadang membuatnya harus berjalan kaki selama satu hari untuk bisa mencapai perkampungan masyarakat agar bisa membantu ibu melahirkan.

"Salah satu tantangan menjadi dokter di Manokwari adalah kondisi geografisnya yang terdiri dari pegunungan dan juga pesisir sehingga transportasi susah, terbatasnya komunikasi, serta kadang terhalang oleh adat istiadat yang berlaku disana," ujar dr Rivaldi yang menerima penghargaan sebagai tenaga kesehatan teladan oleh Kementerian Kesehatan saat ditemui detikHealth di sela-sela acara 'Penyerahan Penghargaan kepada 130 Tenaga Kesehatan Puskemas Teladan' di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin malam (16/8/2010).

dr Rivaldi menuturkan terkadang menemui kesulitan dalam hal transportasi obat, distribusi makanan tambahan dan juga puskesmas keliling karena dibutuhkan perjalanan selama 3 jam dari kabupaten menuju puskesmas.

Berjalan selama satu hari dari satu kampung menuju kampung lain, membangun tenda (berkemah) di tengah perjalanan karena sudah larut malam atau melakukan pengobatan dengan peralatan seadanya, sudah menjadi hal yang biasa baginya.

Tantangan lain yang harus dihadapinya adalah masih tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pengobatan tradisional, sehingga terkadang masyarakat lebih dulu menggunakan obat tradisional, jika tidak berhasil baru mendatangi dokter. Karena itu diperlukan pendekatan atau penyuluhan di masyarakat.

Menghadapi tantangan seperti ini dr Rivaldi mengaku ia biasanya mendekati kepala suku yang punya pengaruh besar di masyarakat untuk memberikan pengertian dan pemahaman.

Baru setelah itu, ia bisa bekerja bersama-sama dan cara ini terbilang cukup efektif. Faktor dr Rivaldi yang juga putera Papua membuatnya agak sedikit lebih mudah melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar.

"Saya menyadari ternyata masih ada manusia di balik gunung atau di daerah pesisir yang belum pernah merasakan sentuhan dokter," ungkapnya.

Diakuinya, tak mudah untuk pasien bisa mencapai puskesmas. Bayangkan jika seorang pasien harus dirujuk ke rumah sakit maka perjalanan yang harus ditempuh dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten selama 9 jam dengan menggunakan long boat (perahu). Dan di rumah sakit ini hanya didapati satu dokter bedah, satu dokter penyakit dalam, dua dokter obstetri dan ginekologi (kandungan) serta dua dokter anak.

"Kadang kami harus merasakan tersiram ombak atau mabuk laut bersama-sama dengan pasien yang akan dirujuk, atau pasien terpaksa harus melahirkan saat dalam perjalanan ke rumah sakit akibat medan perjalanan yang cukup berat untuk dilalui," ujar dokter yang baru saja menikah satu tahun lalu.

dr Rivaldi menuturkan penyakit yang banyak dialami oleh masyarakat Papua adalah malaria (karena masih termasuk daerah endemis), ISPA (infeksi saluran pernapasan atas), cacingan (untuk daerah pedalaman akibat kurangnya pola hidup bersih dan sehat) serta penyakit jaringan otot dan tulang seperti rematik untuk daerah pegunungan karena udaranya yang dingin sekali.

"Di daerah ini orang yang memiliki hemoglobin 3-4 atau orang yang menderita malaria +3 masih bisa berjalan, tapi kalau di daerah lain mungkin orang tersebut sudah harus masuk ICU," ungkapnya.

Tapi bagaimanapun juga dr Rivaldi menuturkan bahwa ia harus survive agar tetap bisa bertahan dan memberikan pelayanan bagi masyarakat. Karena untuk menjadi dokter di daerah sangat terpencil dibutuhkan stamina yang tinggi dan juga harus bisa menjaga dirinya sendiri sebelum bisa menolong orang lain.

"Karena saya asli dari Papua, maka saya harus berbuat sesuatu untuk daerah saya dan juga saudara-saudara saya di Papua, seperti ada ikatan emosional yang lebih tinggi. Hal inilah yang membuat saya tetap bertahan dan semangat menjalani profesi ini," imbuhnya.

dr Rivaldi menuturkan bahwa ada kebanggaan atau kepuasan tersendiri yang dirasakannya jika ia berhasil menolong masyarakat.

"Saya juga ingin melanjutkan pendidikan kedokteran saya untuk mengambil pendidikan spesialis. Nantinya saya ingin mengambil spesialis bedah," ujar dokter yang terpilih sebagai Tenaga Kesehatan Teladan 2010.

Semoga saja impian dr Rivaldi bisa terlaksana, sehingga masyarakat di daerah terpencil di Papua tetap bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik.

(ver/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads