Bila atresia bilier cepat didiagnosis, maka bisa dilakukan operasi Kasai sebelum ia berusia 2 bulan. Bila operasi ini memberikan hasil yang baik, maka diharapkan 50 persen bayi bisa mencapai usia 5 tahun dan 30-40 persen bayi dapat menggunakan hatinya sendiri setelah berusia 10 tahun.
Namun jika terlambat dioperasi hingga usia lebih dari 2 bulan, keberhasilan dari operasi Kasai ini akan menurun drastis dan satu-satunya cara untuk menolongnya adalah melakukan transplantasi hati. Jadi transplantasi hati merupakan terapi yang sebenarnya untuk atresia bilier.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Sastiono selaku dokter bedah anak dari RSCM menuturkan investasi awal untuk operasi transplantasi hati ini memang mahal. Ia mencontohkan alat untuk untuk memotong hati saja berharga sekitar Rp 2 miliar meskipun alat ini bisa dipakai berkali-kali. Selain itu ada beberapa alat yang hanya bisa pakai sekali saja seperti selang infus dan beberapa alat lainnya.
"Faktor lain yang mempengaruhi sulitnya transplantasi hati ini adalah susahnya mencari donor hati, karena itu untuk bayi dan anak-anak biasanya dengan cara mengambil seperlima hati orangtuanya, sedangkan untuk orang dewasa mengambil setengah dari hati orang lain," ungkapnya.
Biaya operasi transplantasi hati ini berbeda-beda di beberapa negara, misalnya di China biayanya sekitar Rp 500-550 juta, di Jepang sekitar Rp 900 juta-1 miliar, di Singapura sekitar Rp 1,1 miliar, sedangkan jika di Amerika Serikat akan lebih mahal lagi.
"Setelah operasi anak harus mengonsumsi obat anti penolakan badan yang harganya terbilang mahal dan harus ditanggung pribadi, biasanya diberi obat tacrolimus yang harus dikonsumsi setiap hari dan dosisnya berbeda-beda tergantung berat badan si anak," ungkap Dr Hanifah.
Mahalnya biaya juga karena sebagian besar bayi atresia bilier datang ke rumah sakit setelah kondisinya parah, misalnya kulit dan matanya sudah kuning pekat dan perutnya membesar. Sehingga satu-satunya cara untuk menolongnya adalah melalui transplantasi hati. Sedangkan jika terdeteksi lebih dini sebelum usia 2 bulan bisa dilakukan operasi Kasai yang membutuhkan biaya lebih ringan yaitu sekitar 15-20 juta.
"Untuk operasi Kasai dokter bedah anak di Indonesia bisa melakukannya, sedangkan untuk transplantasi dibutuhkan keterampilan yang lebih baik. Tapi dengan pengalaman dan kesempatan belajar, dokter di Indonesia bisa melakukannya," ujar Prof. Dr.dr. Akmal Taher, Sp.U (K) selaku dirut RSCM.
Dr akmal menuturkan faktor lain yang mempengaruhi adalah penyediaan alat dan juga biaya setelah operasi. Karena itu kerja sama dengan rumah sakit lain adalah hal yang penting untuk dilakukan.
Salah satu penderita atresia bilier yang belum bisa dioperasi akibat faktor biaya adalah Bagus Putranto (20 bulan). Bayi yang lahir 17 Januari 2010 ini diketahui menderita atresia bilier saat berusia 3 bulan.
"Saat usia 1 bulan saya bawa ke rumah sakit di Jayapura, dokter mendiagnosis ia menderita hepatitis. Tapi setelah diberi obat tidak menunjukkan adanya perbaikan dan bilirubinnya tetap tinggi, lalu saya bawa ke RS angkatan darat di Jayapura dan dinyatakan bahwa ia menderita atresia bilier," ungkap ibundanya, Dwi (36 tahun).
Akhirnya Bagus dikirim ke Jakarta dan dirawat di RSPAD Jakarta karena sang suami adalah PNS angkatan darat. Namun ia hanya mendapatkan ruang perawatan dan ruang operasi saja, sementara untuk biaya operasinya masih harus ditanggung sendiri.
"Dokter bilang biaya operasi sampai pengobatannya sekitar Rp 1-1,5 miliar, saya mohon ibu menteri bisa membantu biaya operasi anak saya," ungkap Dwi.
Karena itu deteksi dini adalah salah satu cara terbaik untuk menolong bayi dengan atresia bilier, dan orangtua sebaiknya tidak mengabaikan bayi kuning yang tak kunjung sembuh selama 2 minggu.
(ver/ir)











































