Bekerja dengan hanya kemampuan ijasah D1 (Diploma 1) dirasa bidan bernama lengkap Roosmany Leolang ini tidak cukup. Menurutnya, bidan harus punya pengetahuan yang baik setara sarjana agar keterampilannya lebih luas.
Apalagi pemerintah juga tidak mengakui kemampuan bidan D1 meski sudah punya pengalaman puluhan tahun. Semua bidan yang belum lulus D3 (sarjana muda) dianggap ilegal sejak tahun 2010.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekolah terdekat ada di ibukota provinsi Mataram. Itu artinya harus menyeberang pulau dengan kondisi cuaca yang kadang tak menentu. Belum lagi usia tua para bidan yang rata-rata di atas 40-50 tahun yang membuat mereka susah diajak untuk bersekolah lagi.
Tapi Roosmany tak kenal lelah memperjuangkan berdirinya sekolah D3 untuk bidan-bidan senior di Bima. Semua rintangan dihadapi termasuk kecurigaan bahwa ini adalah ambisi pribadinya untuk meraih gelar D3.
"Saya memperjuangkan sampai ke Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Pusat. Saya punya inisiatif bagaimana pendidikan itu harus ada di Bima, di kabupaten kami," kata Roosmany ketika berbincang dengan detikHealth disela-sela acara Malam Penganugerahan Srikandi Award 2010 di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto Jakarta, Selasa malam (21/12/2010).
Roosmany tak bisa membayangkan apa jadinya jika bidan-bidan D1 di Bima yang sarat pengalaman tak bisa membantu ibu melahirkan. Dengan jumlah bidan yang ada saat ini saja masih 50 persen desa di Bima yang tak terjamah Bidan, apalagi jika praktek bidan D1 dihapuskan.
Satu-satunya cara menurut Roosmany meningkatkan kemampuan bidan D1 menjadi D3 sambil menunggu lulusan-lulusan terbaru untuk terjun ke desa-desa.
Itulah yang membuat bidan Roosmany terus berjuang dan mengupayakan adanya pendidikan D3 untuk bidan-bidan senior yang masih berpendidikan D1 di Bima.
"Biar hujan atau angin kencang, saya tetap ke Mataram untuk mengurus berdirinya sekolah D3 bidan ini. Walaupun cuaca jelek seperti saat ini gelombang tinggi dan saya nggak boleh nyebrang, tapi saya tetap nyeberang," ujar Roosmany yang merupakan salah satu peraih penghargaan Srikandi Award 2010 untuk Kategori Bidan Inspirasional.
Kerja kerasnya pun terbayar. Ketua Umum IBI membolehkan berdirinya sekolah bidan asalkan ada Poltekes, ada pengajar yang berpendidikan D4 minimal 4 orang, ada dokter kandungan (Obstetri Ginekologi) dan ada STA maka pendidikan D3 untuk bidan di Bima bisa dibuka.
"Akhirnya kita upayakan dulu mencari calon dokter dan pengajar yaitu D4. Saya datang ke Pemda, ke bapak Bupati sama Dewan. Dengan alasan yang betul-betul meyakinkan dan dipercaya. Akhirnya beliau memberi dukungan, malah mengirimkan 5 orang padahal cuma minta 4 orang," kata Roosmany yang sudah bertugas sejak 1 Mei 1970.
Tapi masalahnya tak lantas selesai setelah mendapatkan bantuan pengajar dari Pemerintah Daerah. Sudah ada sekolah tapi calon peserta kuliahnya yang tidak ada. Bidan-bidan senior tidak mau kuliah lagi karena merasa sudah tua dan bersaing dengan anak sendiri yang juga masih kuliah.
"Saya sampai nangis, karena saya merasa sudah berjuang mengupayakan agar ada pendidikan ini malah nggak ada yang mau kuliah. Akhirnya saya yang sudah pensiun yang memberi contoh, saya jadi pendaftar pertama," kenang bidan yang sebenarnya sudah pensiun sejak 1 Februari 2007.
Akhirnya berkat perjuangan dan semangat pantang menyerah yang dimiliki Roosmany, sekarang bidan-bidan senior di Bima sudah mau menempuh pendidikan D3 di kabupaten sendiri dan tidak perlu ke ibukota provinsi. Rata-rata yang mengikuti kuliah D3 berusia di atas 40 dan 50an tahun, bahkan ada 2 mahasiswa yang hampir pensiun.
Jika berdasarkan pengalaman, bidan-bidan senior tersebut tentunya sudah banyak. Tapi setelah kuliah dan menempuh pendidikan D3, masih banyak ilmu yang dapat dipejari yang nantinya dapat menekan angka kematian ibu dan anak.
"Di samping itu saya juga memperjuangkan supaya kami bebas biaya kuliah. Jadi saya memperjuangkan di Pemda untuk membantu biaya perkuliahan," kata bidan Roosmany yang menghabiskan seluruh masa baktinya di Kabupaten Bima meski menempuh pendidikan di Denpasar.
Bidan Roosmany mengatakan, tadinya ia sempat ditentang Kepala Dinas Kesehatan Bima karena dianggap melakukan hal tersebut hanya untuk kepentingan pribadi.
"Beliau belum begitu mengetahui apa maksudnya kuliah dan tujuan dari D3 ini. Tapi ternyata setelah dia tahu akhirnya beliau bilang mendukung," lanjut bidan Roosmany yang lahir 12 Januari 1951.
Bidan Roosmany yang pernah menjabat sebagai Ketua IBI Bima akhirnya berhasil mendapat bantuan untuk kegiatan operasional pendidika 40 bidan per tahun, sejak tahun 2004 hingga sekarang.
"Prinsip saya, saya harus berbagi pengalaman untuk adik-adik bidan. Jadi setiap saya kemana saja, saya selalu memetik ilmu yang nantinya saya bisa bawa ke Bima. Yang baik boleh diambil, yang jelek jangan diambil cukup untuk pengalaman saja," tutup bidan Roosmany.
(mer/ir)











































