Kalau Mau Maju di Kesehatan, RI Perlu Kembangkan Stem Cell

Kalau Mau Maju di Kesehatan, RI Perlu Kembangkan Stem Cell

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Kamis, 19 Apr 2012 11:38 WIB
Kalau Mau Maju di Kesehatan, RI Perlu Kembangkan Stem Cell
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Inovasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dinilai sebagai kunci kemajuan sebuah bangsa. Kemajuan di bidang kesehatan juga membutuhkan inovasi, khususnya pengembangan stem cell mengingat penderita penyakit degeneratif cenderung meningkat dari masa ke masa.

Stem cell yang disebut juga sel punca atau sel induk adalah teknologi baru yang banyak dikembangkan sebagai terapi paling mutakhir. Intinya adalah mengembangkan sebuah sel yang diambil dari satu bagian tubuh, lalu dikembangkan menjadi sel lain atau bahkan organ tertentu yang dibutuhkan oleh pasien.

Teknologi ini memberikan harapan besar bagi penderita penyakit degeneratif atau penyakit yang dipicu oleh menurunnya fungsi organ. Jenisnya bermacam-macam karena semua organ bisa menurun kinerjanya akibat proses penuaan termasuk pengeroposan tulang, pikun, diabetes melitus, infertilitas hingga berbagai gangguan jantung dan pembuluh darah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Organ-organ, jaringan atau sekedar sel-sel tubuh yang rusak akibat proses penuaan secara teoritis bisa digantikan dengan teknologi stem cell. Bahkan di berbagai negara, stem cell sudah bisa diterapkan untuk beberapa jenis penyakit khususnya penyakit degeneratif.

"Semua orang akan menjadi tua dan sekarang makin banyak yang kena penyakit degeneratif. Maka kalau mau maju, kuncinya adalah stem cell dan inovasi-inovasi lain seperti nanoteknologi," kata dr Boenjamin Setiawan PhD, salah satu pendiri PT Kalbe Farma dalam kick-off Ristek Kalbe Science Award (RKSA) 2012 di Gedung Kementerian Riset dan Teknologi, Kamis (19/4/2012).

Dikeluhkan oleh dr Boenjamin, dukungan pemerintah terhadap riset-riset inovatif saat ini masih sangat kurang. Karena dananya terbatas, maka motivasi para peneliti muda juga tidak berkembang dan akibatnya tidak banyak hasil-hasil penelitian yang bisa diterapkan termasuk di bidang kesehatan.

Rendahnya motivasi para peneliti muda juga diakui oleh Prof Dr Drs Terry Mart, seorang fisikawan dan juga peneliti muda dari Universitas Indonesia. Ia menilai, banyak ilmuwan muda yang belajar ke luar negeri lalu menulis di jurnal internasional namun tidak berkembang ketika pulang ke tanah air.

"Banyak ilmuwan yang akhirnya berubah menjadi pakar di bidang lain, jadi narasumber di mana-mana. Mereka juga menjadi jago kandang karena tidak menulis lagi di jurnal internasional, dan juga jago ribut kalau sudah menyangkut kekuasaan," kata fisikawan kelahiran tahun 1966 ini menyindir akademisi yang sering berkonflik untuk urusan birokrasi kampus.

Ristek Kalbe Science Award (RKSA) 2012 sendiri merupakan ajang untuk memberikan apresiasi terhadap karya ilmuah para peneliti Indonesia, hasil kerjasama PT Kalbe Farma dengan Kementerian Riset dan Teknologi.

Ajang serupa pernah diadakan tahun 2008 dan 2010, sehingga RKSA 2012 ini adalah kali ketiga dan pendaftaran hingga pengumuman pemenangnya akan berlangsung hingga September 2012.


(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads