Punya Perut Rata Itu Memang Perlu Perjuangan

Ulasan Khas

Punya Perut Rata Itu Memang Perlu Perjuangan

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 16 Mei 2012 14:28 WIB
Punya Perut Rata Itu Memang Perlu Perjuangan
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Untuk mendapatkan perut rata memang dibutuhkan perjuangan. Namun apakah perjuangan itu harus berupa sakit punggung karena kebanyakan sit-up serta nyeri lambung karena menahan lapar saat menjalankan diet? Berikut ini penjelasan dokter.

"Rasa sakit itu datangnya dari otot. Padahal orang itu hidup bukan dengan otot, melainkan jantung. Ukuran berat ringannya olahraga mengecilkan perut harus dilihat dari jantung," tegas Dr Michael Triangto, SpKO dari RS Mitra Kemayoran saat dihubungi detikHealth, Rabu (16/5/2012).

Menurut Dr Triangto, rasa sakit tidak bisa dipakai sebagai ukuran berat atau ringannya perjuangan mengecilkan perut. Otot sebagai sumber rasa sakit kadang memiliki kekuatan yang jauh melebihi kemampuan jantung, sehingga malah berbahaya kalau dipaksakan olahraga sampai terasa sakit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ukuran yang paling akurat untuk menilai berat atau ringannya olahraga mengecilkan perut adalah denyut jantung. Cara mengukurnya bisa dengan alat yang dinamakan Athlete Monitor, namun bisa juga dilakukan dengan cara sederhana yakni dengan meraba nadi sembil melihat jam.

"Saat olahraga, dalam satu menit idealnya jantung berdenyut sebanyak 60 sampai 80 persen dari denyut jantung maksimal. Cara menghitung denyut jantung maksimal adalah dengan rumus 220 dikurangi usia yang dinyatakan dalam tahun," papar Dr Triangto.

Misalnya jika usia seseorang adalah 20 tahun, maka denyut jantung maksimalnya dihitung dengan rumus 220-20 = 200 kali/menit. Denyut jantung ideal saat berolahraga adalah 60 persen x 200 = 120 kali/menit, hingga 80 persen x 200 = 160 kali/menit.

Sementara untuk diet yang benar, pada prinsipnya adalah menyeimbangkan asupan kalori dengan jumlah energi yang dikeluarkan. Diet yang dilakukan dengan cara menyiksa diri sampai perutnya melilit-lilit jelas tidak dibenarkan, karena lebih banyak efek negatifnya daripada positifnya.



(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads