Mitos Lebih Dipercaya, Dimana sang Pencerah Seks?

Ulasan Khas

Mitos Lebih Dipercaya, Dimana sang Pencerah Seks?

- detikHealth
Rabu, 23 Mei 2012 15:00 WIB
Mitos Lebih Dipercaya, Dimana sang Pencerah Seks?
(Foto: Thinkstock)
Jakarta - Saat ini banyak mitos seputar kejantanan pria yang masih banyak dipercaya oleh masyarakat, padahal sebagian besar menyesatkan. Kenapa banyak orang yang masih percaya mitos? Dan dimana mendapatkan pencerahan tentang seks?

"Mitos mengenai seks seperti perbesar alat vital ini justru merugikan masyarakat karena seringkali dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab seperti menawarkan jasa melalui iklan bohong," ujar pakar seksologi Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, saat dihubungi detikHealth, Rabu (23/5/2012).

Prof Wimpie menuturkan mitos yang paling sering dipercaya masyarakat adalah kabar yang menyatakan ukuran penis yang dimiliki oleh seorang laki-laki menentukan kepuasan seksual perempuan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Akibat mitos ini banyak iklan yang menawarkan cara untuk menambah ukuran penis, dan banyak laki-laki yang menjadi korban akibat iklan ini," ungkap Prof Wimpie yang merupakan Guru Besar dari Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana .

Lebih lanjut Prof Wimpie menceritakan dirinya banyak menerima korban akibat iklan bohong dan konyol tersebut. Bahkan ada kopi yang diiklankan ternyata sudah dicampur dengan bahan obat untuk disfungsi ereksi.

"Agar masyarakat tidak percaya mitos, tentu diperlukan pendidikan yang memadai tentang seksualitas, dan saya sendiri merasa sudah cukup bebas bicara tentang seks dalam sisi pengetahuan pada berbagai kelompok masyarakat," ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh psikolog seksual Zoya Amirin, MPsi, ia menuturkan masih banyak mitos-mitos seputar masturbasi yang dipercaya masyarakat, seperti masturbasi dapat menyebabkan penis mengecil, ejakulasi dini dan dengkul kopong.

"Itu semua tidak benar karena tidak ada bukti ilmiahnya," ujar Zoya yang juga anggota dari Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI).

Zoya menuturkan informasi seputar seks harus diberikan dengan baik dan benar, misalnya dari orangtua atau guru pada anak. Karena jika tidak mendapat informasi benar anak akan mulai coba-coba mengeksplorasi diri saat puber termasuk keingintahuan tentang hubungan seks yang tinggi.

Seks juga seharusnya bisa didiskusikan dari sisi ilmiahnya dan orang harus dibiasakan agar tidak berpikiran negatif atau kotor. Dengan begitu orang jadi bisa mengerti dan tahu harus bagaimana menghadapinya.

Selain itu diharapkan masyarakat tidak lagi merasa tabu jika membicarakan tentang seks, karena seks adalah sesuatu yang perlu dan penting untuk dibicarakan agar masyarakat tidak mencari jalan keluar yang salah serta bisa mengetahui mana kabar yang benar dan salah.


(ver/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads