Untuk membeli putaw atau jenis Napza yang lain, anak-anak biasanya memang belum memiliki cukup uang. Namun bukan berarti anak-anak tersebut tidak punya wawasan tentang barang terlarang itu, sebab transaksinya mudah ditemukan di lingkungan sehari-hari.
"Dulu di sini sangat terbuka, anak 7 tahun saja bisa lihat orang dewasa jual beli putaw. Mereka jadi tahu putaw seperti apa," kata Novi, ibu dari 2 anak yang tinggal di kawasan rawan peredaran Napza, saat ditemui detikHealth di Cikini, Selasa malam (5/6/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain dimasukkan dalam permen, rumor yang pernah beredar beberapa tahun yang lalu menyebut bahwa pulpen yang bisa mengeluarkan bau wangi sebenarnya juga diisi dengan Napza. Disebutkan bahwa tujuannya sama, yakni membuat anak-anak kecanduan lalu membeli Napza yang sebenarnya.
"Sejauh ini, kalau anak SD paling-paling cuma ngelem (menghirup uap lem). Kalau putaw setahu saya anak-anak belum ya, karena mahal dan mereka kan juga harus beli aluminium foil, alat suntik dan sebagainya," kata Bambang Sutrisno alias Benk-benk, mantan pecandu Napza yang tinggal di Cikini.
Sementara di kalangan lanjut usia, Benk-benk mengakui bahwa kecanduan, Napza juga masih sering dialami. Benk-benk menambahkan, sekali orang kecanduan putaw maka kemungkinan untuk relaps atau kambuh bisa terjadi sewaktu-waktu sampai seumur hidup karena kerusakan otaknya bisa bersifat permanen.
Kalaupun jarang ada kakek-kaken yang mengonsumsi Napza, itu lebih disebabkan karena para pecandu umumnya tidak sempat menjadi kakek-kakek karena biasanya keburu meninggal baik karena overdosis atau tertular penyakit akibat pemakaian jarum suntik yang tidak steril.
(up/ir)











































