Kecanduan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) paling sering dimulai di usia muda. Ada yang berawal karena dipaksa atau dijebak teman, ada juga yang diiming-imingi paket gratisan hingga lama-lama jadi kecanduan.
"Ibaratnya orang promosi, banyak bandar di sini memulainya dengan menawarkan barang gratisan. Nanti kalau korbannya udah kecanduan, baru disuruh bayar," kata Bambang Sutrisno alias Benk-benk, mantan pecandu Napza saat ditemui detikHealth di Cikini, Selasa malam (6/6/2012).
Benk-benk mengatakan, tawaran barang atau paket gratisan sering dilakukan para bandar untuk menjerat remaja yang penasaran. Remaja yang awalnya hanya ingin tahu seperti apa rasanya putaw atau shabu-shabu, lama-lama kecanduan dan tidak bisa lepas dari ketergantungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain karena penasaran dengan paket gratisan, ada juga remaja yang mulai berkenalan dengan Napza gara-gara dijebak dan dipaksa oleh teman. Pengalaman seperti ini pernah terjadi pada seorang siswa SMP, Budi yang akhirnya meninggal sekitar tahun 1990-an.
Dikisahkan oleh ibu kandungnya, Yatimah (53 tahun), Budi yang ketika itu baru kelas 1 SMP diajak piknik ke Ancol oleh teman-temannya. Yatimah yang juga tinggal di sekitar Cikini, Jakarta Pusat mengatakan bahwa anak ketiganya tersebut pulang sore harinya dalam kondisi mabuk.
Oleh almarhum ayahnya, Budi lantas direndam di bak mandi dari sore hingga malam hari sebagai hukuman sekaligus agar segera sadar dari mabuknya. Begitu sadar, Budi menceritakan pengalamannya di Ancol. Ia mengaku ditawari pil koplo, lalu dipaksa meminumnya saat berusaha untuk menolaknya.
"Awalnya ya itu, cuma obat (pil koplo) dan minum (alkohol). Lama-lama makai putaw juga," kata Yatimah mengisahkan almarhum anak laki-lakinya.
Berawal dari pil koplo, Budi lalu berkenalan dengan berbagai jenis Napza termasuk putaw beserta peralatan suntiknya. Karena dipakai bersama-sama, jarum suntik yang tidak steril membuatnya tertular HIV (Human Imunnodeficiency Virus) hingga akhirnya meninggal karena komplikasi diare dan kerusakan ginjal sekitar tahun 1998.
(up/ir)











































