"Yang namanya kecanduan narkotika itu, risiko untuk relaps (kumat) selalu ada dan bisa sampai mati. Rokok saja, saya pernah berhenti 1-2 tahun sekarang kumat lagi. Narkotika lebih parah lagi sugestinya," kata Bambang Sutrisno alias Benk-benk, mantan pecandu Napza kepada detikHealth di Cikini, Selasa malam (5/6/2012).
Benk-benk yang sudah merasakan kecanduan segala jenis Napza tidak menjelaskan secara detail seperti apa rasanya saat mengalami sakaw, namun diakuinya sangat berat. Berdasarkan pengakuan beberapa korban Napza lainnya, sakaw bisa sampai menyebabkan tubuh menggigil dan suhu badan panas dingin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perlakuan seperti ini belakangan sering dialami rekan-rekan Benk-benk sesama pecandu dan mantan pecandu. Entah karena dijebak atau memang sedang sakaw, para pecandu ini terpaksa membeli Napza ketika sedang dipantau polisi sehingga harus ditangkap.
"Di satu titik, pecandu yang sudah sembuh sekalipun bisa makai lagi," kata Benk-benk.
Dengan surat keterangan dari puskesmas atau rumah sakit bahwa sedang menjalani rehabilitasi maupun program-program harm reduction, Benk-benk mengatakan bahwa biasanya para pecandu bisa mendapat kebijaksanaan untuk dilepas. Namun kadang ada syaratnya, yakni harus membantu polisi menangkap bandarnya.
"Istilahnya tuker pala (tukar kepala), si pecandu dilepas tapi harus dapat bandarnya. Atau ada juga yang namanya cepu, yakni para pecandu yang dimanfaatkan sebagai mata-mata untuk menjebak bandar maupun sesama pecandu," terang Benk-benk.











































