"Kalau vaksin yang bisa memberikan perlindungan sebesar 100 persen memang tidak ada, biasanya perlindungan yang diberikan sekitar 80-95 persen," ujar dr Rifan Fauize, SpA dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, saat dihubungi detikHealth Rabu (20/6/2012).
Meski begitu dr Rifan menuturkan pemberian vaksin ini tetap efektif untuk mencegah penyakit, kalaupun nanti si anak terkena penyakit tersebut maka gejala yang muncul jadi tidak berat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun jika banyak bayi atau anak yang tidak diimunisasi secara lengkap, maka tidak menutup kemungkinan terjadinya wabah yang membuat banyak anak sakit atau bahkan meninggal. Seperti kasus wabah campak di Jawa Tengah dan Jawa Barat tahun 2010-2011 yang mengakibatkan 5.818 anak di rawat di rumah sakit serta 16 anak meninggal.
Selain itu ada pula kasus wabah difteri dari Jawa Timur pada tahun 2009-2011 yang kemudian menyebar ke Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, DKI Jakarta yang menyebabkan 816 anak harus dirawat di rumah sakit dan 54 anak meninggal.
Biaya pengobatan lebih besar daripada pencegahan?
Biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh orangtua atau pun pemerintah akan jauh lebih besar ketimbang jika sebelumnya bayi sudah diberikan vaksin atau diimunisasi.
"Jadi pemberian vaksin ini membantu mencegah terkena penyakit, kalaupun anak sampai kena penyakit maka mengurangi gejala yang muncul dan risiko komplikasinya," ujar dokter yang juga anggota IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bidang etika profesi.
dr Rifan menjelaskan saat awal-awal ada vaksin tahun 1800-an dan ilmu belum terlalu berkembang memang banyak kasus meninggal, tapi sekarang jaman dan ilmu sudah berkembang dengan baik maka tidak ada kasus seperti itu.
"Kami berusaha memberikan informasi yang benar, tapi kembali lagi tergantung pada orangtuanya mau memvaksin anaknya atau tidak," ujar dr Rifan yang juga praktik di RS Bunda Menteng, Jakarta.
* Kasus gagal vaksin jumlah hanya sekian kasus dibandingkan dengan keberhasilan manfaat vaksin. Tapi yang memori orang akan lebih kuat mengingat sebuah kasus ketimbang keberhasilannya. Ikuti Ulasan Khas detikHealth hari ini tentang Kontroversi Vaksin Bayi di artikel selanjutnya.











































