Kanker, Satu Kata yang Membuat Orang Terpuruk Lahir Batin

Ulasan Khas

Kanker, Satu Kata yang Membuat Orang Terpuruk Lahir Batin

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 27 Jun 2012 11:02 WIB
Kanker, Satu Kata yang Membuat Orang Terpuruk Lahir Batin
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Dunia seakan runtuh, seakan tidak ada harapan sama sekali ketika seseorang mendapatkan diagnosis kanker. Pembawaan jadi lebih sensitif dan emosional, kadang sudah tidak bisa berpikir rasional. Sebegitu terpurukkah kalau kena kanker?

Martini Lim, seorang ibu muda baru berumur 38 tahun ketika pada tahun 2002 menemukan benjolan kecil di payudara kirinya. Ia ingat betul hari itu adalah hari Jumat dan ia hanya bisa tertegun lalu menghabiskan sepanjang akhir pekan dengan penuh kegalauan.

Tidak ada seorang pun yang ia beri tahu, kegelisahan tersebut bahkan ia sembunyikan dari suaminya sendiri. Atas inisiatifnya sendiri, Martini baru pergi ke Rumah Sakit pada hari Senin berikutnya dan di situ ia mendapat surat pengantar Ultrasonografi (USG).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Melihat hasil USG, dokter bilang besoknya saya harus datang lagi bersama suami. Perasaan saya semakin tidak karuan karena pasti ada yang tidak beres," kata Martini saat ditemui di tempat kerjanya, seperti ditulis detikHealth Rabu (27/6/2012).

Benar saja, dokter mengatakan bahwa benjolan sebesar biji salak di payudara kirinya adalah kanker stadium II-B dengan tingkat keganasan 60 persen. Tidak ada pilihan lain, Martini dirujuk ke dokter bedah untuk menjalani operasi untuk menyelamatkan nyawanya.

Alih-alih memikirkan pengobatan, Martini justru memikirkan omongan orang-orang tentang kanker. Tentang si ini yang habis operasi kanker lalu meninggal, tentang si itu yang kemoterapi dan juga meninggal, dan saat itu Martini merasa tidak punya harapan apapun juga.

Seminggu lamanya Martini mengurung diri, depresi memikirkan kemungkinan terburuk yang harus ia hadapi. Segala urusan pekerjaan, termasuk urusan administrasi perusahaan suaminya segera ia bereskan agar tidak terbebani tanggung jawab kalau terjadi sesuatu pada dirinya.

"Kalau tidak boleh dibilang penyesalan, anak saya yang saat itu masih kelas 2 SD sampai tidak naik kelas. Gara-gara menutup diri, saya justru menelantarkan banyak hal," kenang Martini tentang anak keduanya yang harus ikut menanggung dampak dari kanker yang dideritanya.

Pada akhirnya, Martini memang harus merelakan payudara kirinya diangkat oleh dokter di Singapura. Setelah menjalani 6 kali kemoterapi, ia bisa melewati masa pemulihan dan sangat bersyukur diberi kesempatan untuk hidup hingga usia 48 tahun sekarang ini.

Perasaan terpuruk juga dialami Albert Charles Sompie, mantan kapten tim nasional softball Indonesia era 1980-1990. Laki-laki berkumis yang akrab dipanggil Berthie Sompie ini juga melalui fase denial atau pengingkaran ketika pada tahun 2002 didiagnosis kanker paru dan usus sekaligus.

Bahkan bukan cuma dirinya yang sulit menerima kenyataan itu, tetapi juga kakak iparnya yang kini menjabat sebagai Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Prof Dr Menaldi Rasmin, SpP(K). Saking tidak percayanya, Prof Menaldi sampai tidak tega mengatakan penyakit Berthie.

"Waktu saya tanyakan saya sakit apa, kakak saya malah balik tanya, 'Feeling kamu apa?' saya tanyakan apakah kanker paru, baru dia mengiyakan. Nggak tega keluar dari mulutnya sendiri," tutur Berthie yang sebenarnya sudah yakin kena kanker karena pada saat itu dia adalah perokok berat yang sanggup menghisap 60 batang/hari.

Laki-laki yang kini dikenal sebagai aktivis anti rokok tersebut sangat terpukul karena karir dan hobinya sebagai pemain softball profesional terancam hancur. Bahkan lebih dari itu, ia tidak yakin bisa selamat karena pada saat itu yang didengarnya tentang kanker selalu berujung pada kematian.

Dalam kondisi pikiran yang serba kacau, Berthie sempat balik badan menolak tawaran operasi dan kemoterapi selama hampir setahun lamanya. Ia lebih memilih pengobatan alternatif dan jadi sangat sensitif ketika dilarang oleh istri dan kakak iparnya.

"Wong yang sakit saya kok, yang merasakan penderitaan ya saya sendiri. Begitulah, orang jadi lebih sensitif dalam kondisi seperti itu. Dan pada titik itu saya benar-benar takut, saya balik badan karena takut operasi," kata Berthie.

Keterpurukan secara mental akhirnya menjalar ke fisik. Gejala kanker paru stadium III-B yang sebenarnya tidak ia rasakan sama sekali sebelumnya, jadi terasa tidak nyaman justru karena Berthie selalu kepikiran ada penyakit di dalam tubuhnya.

"Ya secara psikis kalau tahu ada penyakit, tidur begini jadi tidak enak, begitu tidak enak. Padahal tadinya tidak terasa apa-apa," kata Berthie yang mengaku masih nekat bertanding softball beberapa hari menjelang operasi, bahkan masih sempat menghisap rokok terakhir sebagai salam perpisahan.





(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads