Walaupun pengobatan untuk penyakit kanker terbilang sudah cukup maju, tapi beberapa orang gagal menang melawan kanker. Berikut ini kisah 4 orang yang gagal melawan kanker, seperti yang diceritakan keluarga pasien ke detikHealth, Rabu (27/6/2012).
1. Zulfikar gagal melawan kanker tulang langka
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sang ibu, Nurhasanah langsung memeriksakan kondisi anaknya tapi dokter belum tahu apa penyakitnya. Kondisi Zulfikar pun semakin drop dan terpaksa dirujuk ke RSAB Harapan Kita Jakarta, hingga akhirnya dirujuk lagi ke RS Kanker Dharmais.
Sungguh malang nasib bocah yang lahir pada tanggal 1 Agustus 1997 ini, dari hasil biopsi kedua inilah dokter mengetahui bahwa Zilfikar terkena penyakit kanker tulang belakang jenis Myxopapillary ependymoma yang merupakan salah satu kasus kanker yang jarang ditemui di Indonesia stadium awal.
Tapi perjalanan penyakit ini cenderung cepat, karena pada Desember 2009 dokter justru memvonis penyakitnya makin parah dan masuk stadium lanjut yang membuatnya hanya bisa berada di tempat tidur dan mendapatkan pengobatan paliatif saja, karena tipisnya harapan yang dimiliki serta adanya masalah biaya.
Meskipun sudah divonis hanya punya sedikit harapan hidup, tapi Zulfikar sering mengatakan pada ibunya bahwa dirinya ingin sembuh. Semangat yang dimiliki Zulfikar untuk sembuh terkadang sering membuat ibunya merasa sangat sedih.
Kala itu Fikar masih berjuang untuk bisa melawan sel-sel kanker yang menyerang tubuhnya. Meskipun harapan hidupnya tipis, anak yatim itu tetap memiliki semangat besar untuk sembuh dan membahagiakan ibunda tercinta, satu-satu keluarga inti yang dimiliki setelah ayahnya meninggal pada tahun 2007.
Dukungan terhadap Fikar untuk sembuh datang dari banyak pihak. Beberapa pilot dari Maskapai Garuda Indonesia datang khusus menjenguknya karena Fikar selalu bercita-cita ingin jadi pilot, Menteri Perbedayaan Perempuan Linda Gumelar serta pemain sepak bola Bambang Pamungkas karena Fikar hobi bermain play station bola.
"Fikar sejak kelas 1 SD sudah punya cita-cita ingin menjadi pilot, jadi dokter sengaja mendatangkan pilot kesini untuk membangkitkan semangat hidup Fikar," ujar Nurhasanah.
Namun ternyata takdir berkehendak lain, tubuh Fikar tidak lagi mampu melawan sel-sel kanker ganas yang menyerang. Ia pun meninggal dunia pada 30 Desember 2009 akibat kanker tulang belakang.
2. Yulianti gagal melawan kanker rahim
Awalnya ibu Yulianti mengeluh sakit dan ngilu di perut bawah seperti orang kram saat menstruasi pada Oktober 2009, hingga akhirnya lama-lama ia memakai kain di bawah perut karena merasa seperti ada yang mau jatuh dan dipikirnya kena turun berok.
Meski makin lama makin sakit tapi Ibu Yulianti tetap tidak mau pergi ke dokter dan memilih untuk diurut pada Awal Desember, setelah diurut ia mengaku rasa sakitnya berkurang dan keluar darah yang dipikir adalah darah menstruasi.
Namun seminggu kemudian makin sakit sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur dan badannya panas, dokter bilang ada penyumbatan di saluran. Tapi keluarga tidak lantas percaya hingga akhirnya konsultasi lagi ke dokter kandungan dan diketahui ada myom sebesar 8 cm di dekat rahim sehingga harus diambil dengan operasi.
Saat operasi baru setengah jalan, tiba-tiba dokter memanggil sang suami dan mengatakan ada bibit-bibit kanker (bentuknya seperti anggur kecil-kecil) di sekitar rahim dan katanya sudah telat karena telah menyebar ke semua rahim.
"Ternyata darah yang keluar setelah diurut itu bukan menstruasi, tapi sel kanker yang pecah sehingga meluas kena kanker rahim, jadi rahimnya harus diangkat. Kata dokter itu sudah stadium 3C," ujar Dyah Gayatri sang anak, saat dihubungi detikHealth.
Setelah operasi, dokter sempat menanyakan apakah mau dilanjutkan dengan kemoterapi atau tidak, dan Ibu Yuli memutuskan mau kemoterapi sehingga harus dipindah ke RS Kanker Dharmais. Paket kemoterapi pertama ini sebanyak 6 kali kemoterapi dengan interval waktu 3 minggu dan dimulai pada Februari 2010.
Dyah menceritakan tidak ada keturunan yang memiliki kanker dan pola hidup ibunya juga terbilang tidak neko-neko, tapi kondisi yang dialami ibunya kemungkinan karena kecolongan tidak memeriksakan pap smear. Semenjak melahirkan anak kelimanya sekitar 10 tahun yang lalu, ibu Yuli sudah tidak lagi memeriksakan pap smear.
Selesai paket 1 kemoterapi diketahui kadar Ca (kanker) nya sudah 0 persen, ibu Yuli pun sempat bisa menyetir lagi dan badannya tidak kurus. Tapi 2 bulan berikutnya kadar Ca kembali tinggi dan ada kekambuhan tapi bukan di daerah rahim, melainkan menyebar ke usus.
Akhir 2010 kondisinya mulai memburuk sampai awal 2011 ditemukan tumor ganas sebesar telur di bawah lambung, tapi hasil pemeriksaan endoskopi menemukan di sekitar tumor ada bibit-bibit kanker lagi sehingga tidak bisa dioperasi.
"Kata dokter kalau bibit yang seperti anggur ini pecah maka penanganannya akan lebih susah karena kanker akan menyebar, jadi harus masuk kemoterapi paket 2 yang obatnya dosisnya lebih tinggi dan efeknya langsung kelihatan di tubuh karena muntah bisa 10-15 kali dalam sehari, muntahnya warna hijau, nggak bisa makan, rambutnya rontok," ungkap Dyah.
Akhirnya Ibu Yuli memutuskan untuk berhenti setelah 3 kali kemoterapi karena tidak kuat. Tumor yang sempat mengecil ini pun kembali membesar, hingga akhirnya ia mau dikemoterapi lagi. Tapi karena kondisi badannya sudah lemah dan obatnya keras, maka tubuh Ibu Yuli pun semakin kurus.
"Abis lebaran 2011 mulai memburuk lagi, kurus banget, nggak bisa jalan, makan nggak bisa dan dirawat di Dharmais selama 2 bulan karena muntah terus. Jadi tumor ini menekan lambung, setiap ada makanan yang masuk muntah. Sempat dikemoterapi lagi 2 kali, tapi setelah itu ibu nggak sanggup dan mau pulang ke rumah," imbuhnya.
Dyah menuturkan saat itu sempat mencari alternatif dan diberikan minuman jamu, muntahnya berhenti, bisa makan dan terlihat lebih segar. Ia tidak tahu apakah itu memang jamunya mujarab atau hanya pengaruh psikologis atau sugesti saja.
"Namun awal Januari 2012 tiba-tiba ibu tidak bisa melihat dan badannya gemetar, setelah ke rumah sakit diketahui ibu mengalami dehidrasi dan tekanan darah rendah sehingga harus dirawat di rumah sakit selama seminggu," ujarnya.
Namun seminggu setelah pulang dari rumah sakit, Ibu Yulianti meninggal dunia, tepatnya pada 3 Februari 2012. Ternyata sejak pertama kali divonis kanker, dokter sudah mengatakan bahwa kondisi Ibu Yuli terbilang gawat atau istilahnya hanya menunggu waktu saja, bahkan dokter memvonis hidupnya hanya tinggal 1 tahun, tapi karena Ibu Yuli terus semangat ingin sembuh ia pun bisa bertahan hingga hampir 3 tahun.
3. Muhammad Arif gagal melawan kanker payudara
Awalnya Bapak Arif merasakan nyeri di dada kiri, terutama di (maaf) putingnya pada sekitar tahun 1990-an. Nyeri yang dialami Bapak Arif ini terasa sangat menyiksa hingga beliau memotong putingnya yang nyeri itu sampai berdarah-darah.
"Ketika dipotong, Bapak mengaku putingnya sudah mati rasa sehingga tidak terasa sakit dan ini dilakukannya di depan saya dan nenek. Beruntung pendarahan tersebut bisa dihentikan setelah ditutup dengan menggunakan perban, meski katanya rasa nyerinya tak kunjung hilang," ujar sang cucu Kiki (24 tahun), saat ditemui detikHealth.
Bapak Arif pun memeriksakan diri ke dokter dan ternyata diketahui kankernya telah mencapai stadium 2 dan 3. Setelah beberapa tahun menggunakan obat-obatan dari dokter, lama-lama kondisi Bapak Arif malah menjadi resisten terhadap obat dikarenakan beliau memiliki tekanan darah tinggi.
Selain menggunakan pengobatan dari dokter, Bapak Arif juga mengonsumsi banyak pengobatan tradisional, diantaranya jintan hitam, air ozon, buah merah, sarang semut hitam dan sejumlah pengobatan tradisional di daerahnya, Banyuwangi. Kedua jenis pengobatan ini dikonsumsi secara bersamaan sebagai kombinasi.
Selama beberapa saat, rasa nyeri yang dialami Bapak Arif pun mulai berkurang. Namun suatu ketika kondisi Bapak Arif mengalami muntah darah dan tubuhnya semakin kurus hingga akhirnya pada tahun 2010, beliau diopname selama 3 bulan di RS Fatimah Banyuwangi. Setelah dicek, ternyata kanker Bapak Arif sudah mencapai stadium 4.
Sebenarnya Bapak Arif pernah dirujuk ke RS Dr. Soetomo Surabaya namun kemudian rujukan ini tidak dilanjutkan karena alasan prosedural yang rumit. Lagipula selain jauh dari kota asal, pada saat itu daya tampung di RS Dr. Soetomo sudah tidak memadai.
Seluruh biaya pengobatan ditanggung secara swadaya oleh putri Bapak Arif dan keluarga. Bapak Arif sendiri hanya menggantungkan hidupnya dari toko kelontong. Beliau juga hanya dirawat oleh istri, ibu narasumber dan narasumber sendiri.
Namun ternyata sel-sel kanker yang menyerang lebih ganas hingga akhirnya Bapak Arif meninggal dalam usia 75 tahun di tahun 2010.
4. Suprapto Hadiprayitno gagal melawan kanker hati
Dimulai pada tahun 1997, Bapak Suprapto mengalami hepatitis B yang kemudian berkembang menjadi kanker di livernya. Namun sel-sel kanker di livernya ini mengalami metastatis atau menyebar ke daerah lain meski ia tidak tahu sudah memasuki stadium berapa.
Awalnya gejala yang muncul adalah mimisan dan kencing darah. Bapak Suprapto pun menjalani pengobatan dari dokter dan sempat mengalami penurunan rasa sakit ketika mengonsumsi obat-obatan yang diresepkan.
"Satu-satunya pantangan untuk Bapak adalah tidak boleh kecapekan dan kehujanan, karena kalau dilanggar maka mata dan kukunya akan menguning," ujar Mita (21 tahun) yang merupakan anaknya.
Selain itu pada tahun 2006, Bapak Suprapto mulai menggunakan pengobatan alternatif, diantaranya pengobatan dayang sumbi serta gel aloe vera yang dibelinya lewat internet.
Namun pada awal tahun 2000-an, livernya membengkak. Kondisi nyeri yang awalnya bersifat kambuhan, kadang mendadak sakit, kadang biasa-biasa saja justru memburuk. Hingga akhirnya pada akhir 2008, Bapak Suprapto divonis menderita sirosis (kanker hati).
Pada waktu itu, Bapak Suprapto selalu menolak jika diminta untuk diopname. Kalaupun check-up, beliau lebih suka bepergian sendiri dan hanya sesekali saja mau ditemani oleh Mita.
Bapak Suprapto sendiri tidak terlihat terkapar di tempat tidur, menunjukkan keluhan atau rasa sakit apapun sehingga Mita kurang begitu mengetahui kondisi sebenarnya dari sang ayah.
Kalaupun mengeluh, Bapak Suprapto hanya mengaku sakit perut biasa. Padahal pernah saking sakitnya, beliau sampai tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali selama 3 hari.
Hingga suatu ketika Bapak Suprapto mengalami mimisan dan beliau hanya mengelapnya dengan sapu tangan yang kemudian disembunyikan di saku bajunya. Namun mungkin karena lupa, istri beliau menemukan sapu tangan itu saat hendak dicuci. Ketika ditanyakan kepada Bapak Suprapto, beliau tak mau mengaku.
Terhitung sejak bulan Agustus 2008, Bapak Suprapto sudah menolak mengonsumsi obat dan malas makan, Mita menduga karena beliau merasa jika ajalnya sudah dekat.
Bapak Suprapto yang berprofesi sebagai wiraswata ini selama sakit masih bekerja selama 6-12 jam dan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota sendirian. Namun menjelang meninggal atau sekitar bulan November 2008, beliau meminta ditemani sopir dengan alasan malas menyetir sendiri.
Hingga akhirnya Bapak Suprapto meninggal dalam usia 46 tahun pada tanggal 10 Desember 2008 akibat kanker hati yang sudah menyebar ke daerah lain.











































