"Untuk menyalurkan hasrat seks, tubuh memiliki mekanisme alami yang disebut mimpi basah atau keluarnya cairan mani ketika tidur," kata Zoya Amirin, M.Psi, psikolog seksual dalam perbincangan dengan detikHealth, Rabu (18/7/2012).
Mimpi basah sering dialami oleh remaja pria sekaligus merupakan tanda mulainya masa pubertas. Pada wanita, hasrat seks yang tak tersalurkan ini umumnya memicu mimpi erotis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Umumnya, remaja mengalami mimpi basah sekitar 1-2 kali sebulan, namun bisa jadi lebih jarang jika melakukan masturbasi.
Sedangkan pada orang yang telah menikah, mimpi basah jauh lebih jarang dialami gairah seks yang muncul sudah terfasilitasi dengan baik.
Oleh karena itu, sah-sah saja jika tidak melakukan masturbasi bagi orang yang menganggap masturbasi adalah larangan atau hal yang tabu.
"Tidak usah masturbasi jika tidak ingin masturbasi dan bisa menahannya. Orang yang masih lajang dan tak ingin masturbasi sebaiknya menghindarkan diri dari pikiran-pikiran yang berbau seks lewat kegiatan yang produktif," kata Dr Nugroho Setiawan, MS, SpAnd, spesialis andrologi RSUP Fatmawati.
Kegiatan produktif yang dimaksud bisa berupa olahraga, bersosialisasi atau hal-hal lain yang menyenangkan seperti makan cokelat. Selain itu, hindari hal-hal yang memicu orang melakukan masturbasi seperti pornografi, menatap tubuh lawan jenis, atau kesepian.
"Kegiatan yang menyenangkan seperti berolahraga atau makan coklat akan memicu tubuh mengeluarkan hormon endorfin, hormon yang juga dikeluarkan ketika sedang bercinta. Oleh karena itu kegiatan tersebut bukan untuk pengalihan, melainkan untuk mengganti endorfin yang dikeluarkan saat berhubungan seksual," kata Zoya.
Tingginya hasrat seks dipengaruhi oleh hormon testoteron, hormon seks yang banyak dijumpai pada pria namun juga sedikit dimiliki wanita. Kenaikan hormon ini menyebabkan munculnya dorongan seks. Mekanisme ini terjadi secara alamiah.
Bagi mereka yang menganggap masturbasi adalah dosa namun hasrat seks yang tinggi tak mampu diredam oleh kegiatan lain yang menyenangkan, maka sebaiknya mempertimbangkan pernikahan sebagai solusinya. Yang perlu diingat adalah kesiapan mental dan perasaan saling menyayangi antar pasangan.











































