"Penolakan utama terhadap fenomena mati suri adalah karena orang-orang yang mengalaminya tidak benar-benar mati. Orang yang tidak pernah mengalami kematian tidak dapat menceritakan realitas sesungguhnya yang melampaui kematian," tulis Rubiana Soeboer, psikolog dalam bukunya yang berjudul 'Mati Suri' seperti dikutip detikHealth, Rabu (1/7/2012).
Lebih lanjut lagi, Rubiana menjelaskan bahwa beberapa ahli yang meyakini fenomena ini mengemukakan sejumlah argumen yang diduga dapat memicu mati suri, yaitu:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mati suri dipahami sebagai sebuah rangkaian reaksi otak. Fenomena ini disebabkan karena transmitter saraf di otak menutup dan menciptakan ilusi yang yang menyenangkan.
Oleh karena itu, mati suri merupakan fungsi otak yang tengah menjalani proses kematian dan dialami oleh semua manusia. Itulah sebabnya orang yang mengalami mati suri secara garis besar mengalami pengalaman yang mirip.
2. Otak kekurangan oksigen
Mati suri juga disebut-sebut dapat disebabkan karena berkurangnya oksigen dalam otak atau terlalu banyak karbondioksida sehingga menyebabkan halusinasi.
Tetapi teori ini tidak dapat menjelaskan mengapa beberapa orang pasien dapat menceritakan secara utuh dan meyakinkan mengenai apa yang dialami selama mati suri.
Pada halusinasi, gambaran yang dilihat tidak sepenuhnya jelas dan berhubungan erat dengan depresi, kebingungan serta penyalahgunan obat. Sedangkan kebanyakan orang yang mengalami mati suri bukanlah orang yang memiliki gangguan kejiwaan.
3. Rangsangan pada salah satu bagian otak
Beberapa ciri mati suri dikenali mirip dengan epilepsi yang berhubungan dengan kerusakan area lobus temporal di otak. Hasil penelitian menemukan bahwa menstimulasi area ini akan menimbulkan pengalaman seperti mati suri, misalnya melihat masa lalu atau mengalami sensasi terlepas dari raga.
Beberapa orang yang mengalami mati suri juga diketahui menderita stroke atau memiliki tumor di area lobus temporal. Namun anehnya, stimulus pada bagian otak ini memunculkan emosi ketakutan dan kesedihan, sedangkan emosi yang muncul ketika mati suri terkadang adalah rasa damai dan bahagia.
4. Takut mati
Dari segi psikologi, fenomena mati suri bisa disebabkan akibat ketakutan yang muncul saat berhadapan dengan kematian. Ketakutan yang muncul berusaha digantikan oleh fantasi yang menyenangkan untuk melindungi diri sendiri. Orang-orang ini melakukan depersonalisasi, memisahkan diri dari tubuh fisik.
5. Ingatan akan kelahiran
Beberapa ilmuwan berpendapat mati suri justru sama sekali tidak berhubungan dengan kematian, melainkan dengan ingatan akan kelahiran.
Seorang bayi dilahirkan meninggalkan rahim melewati lorong cahaya yang memberikan cinta serta kehangatan. Apa yang terjadi ketika mati suri sebenarnya hanyalah ingatan yang disimpan mengenai kelahirannya.
(pah/ir)











































