Kisah Sukses Menurunkan Kolesterol

Ulasan Khas Teror Kolesterol

Kisah Sukses Menurunkan Kolesterol

- detikHealth
Rabu, 08 Agu 2012 16:25 WIB
Kisah Sukses Menurunkan Kolesterol
(Foto: thinkstock)
Jakarta - Kolesterol tinggi bukan akhir dari segalanya, dampak buruknya masih bisa dicegah asal diobati dan ditunjang oleh diet dan olahraga. Banyak yang sukses mengendalikan kolesterol, meski dokter tidak mengenal istilah sembuh untuk kolesterol.

Hampir Tidak Keterima Kerja di BUMN

Contohnya Gunawan, laki-laki kelahiran tahun 1988 yang beberapa waktu lalu terpaksa menjalani tes kesehatan untuk seleksi masuk kerja. Hasil tesnya mengejutkan, sebab kolesterolnya sangat tinggi meski sebelumnya ia pernah jadi atlet basket.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Memang, pada saat mendaftar di sebuah perusahaan BUMN (Badan Usaha Milik Negara) Gunawan sudah jarang olahraga saking sibuknya belajar semasa kuliah sehingga badannya agak melar. Beratnya mencapai 78 kg, terhitung gemuk untuk tinggi badannya yang hanya sekitar 168 cm.

Ditambah lagi, Gunawan sangat suka mengonsumsi jeroan khususnya iso babat yang sering dipakai untuk campuran soto. Sebagaimana diketahui, jenis makanan tersebut merupakan salah satu pemicu tingginya kadar kolesterol sehingga tidak boleh berlebihan.

"Gemuk kalau menurutku. Sukanya makan jeroan gitu-gitu, daging-daging. Tapi jarang makan sayur," kata Maya teman akrab Gunawan saat dihubungi detikHealth, Rabu (8/8/2012).

Sejak saat itu, dokter meresepkan obat penurut kolesterol dengan kandungan aktif fenofibrate. Selain itu, Gunawan untuk sementara harus menjauhi makanan kesukaannya yakni iso babat dan harus lebih rajin olaraga antara lain futsal seminggu 3 kali dan bulutangkis setiap hari Minggu.

Hasilnya memuaskan, 4 bulan kemudian Gunawan kembali periksa dan hasilnya kadar kolesterol dalam darahnya sudah terkontrol dengan baik. Namun untuk mencegah kadarnya naik lagi, ia tetap harus membatasi iso babat serta harus olahraga rutin untuk membakar lemak.

Gunawan yang sempat tes kesehatannya tidak lolos karena kolesterolnya tinggi 240 mg/dl, akhirnya bisa lulus berkat melakukan diet 4 bulan dan konsultasi dokter. "Sekarang sudah berkurang. Sudah bisa diterima kerja kok, berarti sudah aman," tambah Maya.

Kolesterol Naik Karena Sering Tugas Luar Kota

Lain lagi dengan Anto (29 tahun) yang berprofesi sebagai auditor di Jakarta. Anto yang memiliki tinggi 170 Cm memiliki berat badan 90 Kg.

Anto mengaku sebelumnya ia adalah pria kurus yang hanya memiliki berat badan 60 Kg. Namun setelah kerja berat badannya terus bertambah, apalagi sebelum di tempat kerja sekarang, ia sempat bekerja di kantor audit swasta yang kliennya banyak di daerah.

"Sejak jadi auditor, saya banyak tugas ke luar kota, makannya jadi nggak teratur karena lebih banyak makan hotel atau restoran. Lama-lama badan saya akhirnya bengkak," kata Anto saat dihubungi detikHealth, Rabu (8/8/2012).

Anto merasa tubuhnya menjadi sangat tidak fit sejak Januari 2012. Badannya sering lemas, kaki bengkak dan pundak selalu pegal. Atas saran ibunya, ia lalu periksa kolesterol di laboratorium.

Benar saja setelah dicek kadar total kolesterolnya mencapai 380 mg/dl. Jauh di atas normal 160-200 mg/dl. Dokter juga mewanti-wanti betapa ia sudah masuk dalam status tidak sehat yang bisa mengancam nyawanya karena kemungkinan stroke dan jantung yang lebih besar.

Tak ingin mati muda, Anto lalu mulai mengikuti saran dokter. Ia mengurangi porsi makannya, tidak makan makanan yang digoreng semua serba direbus. Mengurangi nasi, mengurangi seafood, daging dan hanya makan ikan dipepes, tahu dan tempe dibacam, putih telur didadar tanpa pakai minyak serta banyak minum, makan buah dan sayuran.

Saat libur Sabtu dan Minggu, Anto juga tak mau bermalas-malasan dan bangun siang. Waktu libur dipakainya untuk bermain tenis dan renang. Ia juga menjauhi rokok dan tidur cukup 7 jam.

Alhasil, berkat disiplin diet dan olahraga tiap akhir pekan yang dilakukan selama 6 bulan, kini Anto hanya punya kadar kolesterol 170 mg/dl. Berat badannya juga ikut turun menjadi 75 Kg sehingga ia lebih percaya diri karena perutnya tak buncit lagi.

Jika tidak diturunkan, kadar kolesterol yang tinggi memang berisiko memicu gangguan jantung dan pembuluh darah. Komponen lemak jahat ini bisa memicu pengerasan dan penyumbatan pembuluh darah, yang salah satu dampaknya adalah kematian akibat stroke dan serangan jantung.

Meski demikian, Dr Antonia Anna Lukito, SpJP-FIKA dari RS Siloam Lippo Karawaci mengingatkan bahwa tidak ada istilah sembuh untuk kolesterol tinggi. Bagi yang sudah punya riwayat maupun faktor risiko, kolesterol bisa naik lagi sewaktu-waktu kalau dietnya tidak sehat.

"Kolesterol tinggi itu bukan diagnosis, jadi tidak bisa dibilang sembuh. Bisanya dikendalikan atau dikontrol, yaitu dengan diet dan olahraga. Sekarang kolesterolnya turun, kalau jarang olahraga lalu dietnya tidak sehat ya suatu saat pasti naik lagi meski sudah diobati," kata Dr Antonia.




(up/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads