Penggunaan antibiotik pada hewan sebenarnya sama seperti pada manusia, yakni untuk mengobati infeksi. Penyakit-penyakit pada hewan juga banyak yang dipicu oleh mikroorganisme, yang hanya bisa disembuhkan dengan antibiotik tentunya dengan dosis yang disesuaikan.
Namun dalam praktiknya, hewan-hewan yang diberi antibiotik banyak yang kemudian malah menjadi gemuk. Akibatnya justru efek samping antibiotik yang dimanfaatkan, yakni untuk menggemukkan hewan ternak supaya cepat gemuk dan kalau dipotong dagingnya jadi lebih banyak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sampai sekarang masih dicari, sebenarnya apa yang membuat pemakaian antibiotik pada binatang bisa bikin gemuk," kata Prof Maksum saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (5/9/2012).
Penggunaan antibiotik sebagai growth factor atau faktor untuk menggemukkan ternak tentu bukan tanpa risiko. Antibiotik yang dikonsumsi hewan secara terus menerus bisa menumpuk sebagai residu dalam dagingnya, yang kemudian dikonsumsi sebagai makanan manusia.
Residu antibiotik yang terdapat dalam daging ternak itu akan masuk ke tubuh manusia. Kalau terjadi terus-menerus dalam jangka waktu tertentu, maka residu tersebut akan terakumulasi dan membuat mikroorganisme di dalam tubuh menjadi kebal terhadap antibiotik tersebut.
"Nanti ketika sakit, antibiotik jadi tidak efektif lagi. Ada korelasi antara makin banyak antibiotik dipakai, makin tinggi pula risiko resistensi antibiotik," tambah prof Maksum.
Soal penggunaan antibiotik pada hewan, Prof Maksum menilai harus ada aturan dan pengawasan yang lebih ketat. Aturan yang sudah ada saat ini mungkin sudah cukup, namun kontrol atau pengawasan masih harus diperketat untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada hewan.
(up/ir)











































