Duh, Kuman Super Makin Banyak yang Tak Mempan Antibiotik

Ulasan Khas Bahaya di Balik Antibiotik

Duh, Kuman Super Makin Banyak yang Tak Mempan Antibiotik

- detikHealth
Rabu, 05 Sep 2012 13:33 WIB
Duh, Kuman Super Makin Banyak yang Tak Mempan Antibiotik
ilustrasi (foto: Thinkstock)
Jakarta - Pemberian antibiotik tidak boleh serampangan, melainkan harus dengan resep dokter dan hanya digunakan untuk infeksi bakteri.

Entah karena bandel atau tidak tahu, masih banyak orang yang menyepelekan dampak penggunaan antibiotik yang kurang tepat. Hasilnya, muncullah berbagai bakteri yang sudah tak lagi mempan dilawan dengan antibiotik.

Antibiotik generasi pertama, pinisilin, nyatanya sudah tak lagi ampuh seperti dulu waktu awal kali ditemukan. Bakteri-bakteri yang menginfeksi manusia memiliki kemampuan membentuk dinding pelindung sebagai respons terhadap segala hal yang mengacam kelangsungan hidupnya. Kemampuan bakteri untuk melindungi diri ini juga dapat berubah sehingga mengurangi efektifitas pemberian antibiotik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jika antibiotik tidak digunakan dengan benar, ada kemungkinan bakteri mengembangkan resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik. Hal ini akan memperkuat penyakit sebab tak lagi mempan diobati dengan antibiotik," kata Maura Linda Sitanggang, Apt, PhD, Dirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes ketika dihubungi detikHealth, Rabu (5/9/2012).

Apabila terjadi resistensi, maka bakteri hanya bisa dilawan dengan antibiotik kelas lain yang efektifitasnya lebih tinggi. Pemberian antibiotik dengan efektifitas yang lebih tinggi biasanya diberikan lewat intravena. Selain lebih repot, metode tersebut juga lebih mahal.

Berapa jumlah pastinya pemberian antibiotik yang dapat menyebabkan resisten bervariasi antar pasien sehingga belum dapat dipastikan. Kesalahan pemberian tersebut juga tak selalu langsung menimbulkan efek menjadi kebal. Yang perlu diwaspadai, munculnya bakteri yang tak mempan dilibas antibiotik ini justru lebih cepat ditemui di rumah sakit.

"Bakteri yang ada di rumah sakit umumnya lebih resisten terhadap antibiotik dibandingkan bakteri yang ada di rumah karena telah banyak terpapar antibiotik sebelumnya. Ada berbagai tindakan medis di rumah sakit yang berisiko meningkatkan infeksi bakteri. Misalnya pada pemasangan kateter atau infus. Banyak rumah sakit yang memberikan infus kepada pasien padahal sebenarnya tidak terlalu diperlukan," kata Prof. dr. Iwan Dwiprahasto, M.Med.Sc. Ph.D, Guru Besar Farmakologi dan Terapi Universitas Gadjah Mada.

Infeksi yang terjadi di rumah sakit ini disebut infeksi nosokomial. Untuk mengurangi risiko tersebut, semua petugas medis dianjurkan untuk rajin mencuci tangan, baik sebelum maupun setelah melakukan tindakan.

Menurut prof Iwan, rumah sakit yang bagus seharusnya memiliki tingkat infeksi nosokomial tidak lebih dari 2% dari jumlah penanganan medis. Namun beberapa rumah sakit di Indonesia rata-rata memiliki presentase terjadinya infeksi nosokomial sekitar 10%. Jika sistemnya lebih buruk, angkanya bisa naik menjadi 20 - 30%.

Untuk mengetahui apakah bakteri yang menginfeksi seseorang telah resisten, bisa dilakukan pemerikasaan biologis. Caranya dengan melihat dulu apakah pasien menanggapi antibiotik yang banyak diresepkan di puskesmas. Jika ternyata tidak merespons, maka dilakukan pemeriksaan kultur, yaitu sebagian darah atau jaringan dari pasien diambil lalu ditumbuhkan bakteri. Jaringan ini kemudian diberi antibiotik untuk mengetahui antibiotik apa yang tidak mempan lagi digunakan.

Selain pinisilin, ada beberapa jenis antibiotik yang sudah tidak mempan lagi, yaitu Ciprofloksasin, Ampsilin dan Tetrasiklin. Sedangkan beberapa penyakit yang sudah resisten dengan antibiotik antara lain adalah tipes, infeksi saluran kencing, infeksi saluran pernapasan dan tubercolusis (TBC). Sayangnya, perkembangan antibiotik saat ini nampaknya sedang mengendur.

"Perkembangan antibiotik relatif stagnan. Antibiotik terakhir dikembangkan pada tahun 2010. Dalam kurun 5 tahun, baru dikembangkan 2 antibiotik dengan spektrum yang lebih luas, yaitu tigesiklin dan doripenem," pungkas prof Iwan.

(pah/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads