Kanker adalah pertumbuhan jaringan yang tidak normal dan bersifat ganas serta menyebar. Sebenarnya jaringan yang tumbuh itu sendiri tidak menyakitkan, tapi dampaknya bisa mengganggu fungsi organ yang lain dan akhirnya bukan cuma sakit tetapi juga bisa mematikan.
Tidak salah bila dikatakan bahwa pengobatan kanker selalu berpacu dengan waktu, bahkan waktu sangat menentukan keberhasilan pengobatan sejak mulai didiagnosis. Makin dini kanker itu terdiagnosis, peluang untuk sembuh atau sekedar mengendalikan persebarannya akan makin besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maut adalah risiko terburuk yang harus dihadapi ketika seseorang mendapatkan diagnosis kanker. Menghadapi kemungkinan ini saja, orang bisa langsung drop secara fisik maupun mental dan hal itu bisa memicu stres yang dalam banyak penelitian terbukti justru mempercepat pertumbuhan kanker.
Lebih parahnya lagi, kanker tidak pernah pilih-pilih korban. Memang ada anggapan bahwa kanker adalah penyakitnya orang kaya, namun kenyataannya penyakit ini tidak mengenal status ekonomi, jabatan maupun usia seseorang sebab siapa saja bisa kena asal punya faktor risiko.
"Kalau dikatakan kanker penyakitnya orang kaya, itu lebih pada perubahan gaya hidup," kata dr Ramadhan, SpBOnk, ahli kanker dari Cancer Information and Support Center (CISC) yang berpraktik di RS Kanker Dharmais saat dihubungi detikHealth seperti ditulis Rabu (26/9/2012).
Perubahan gaya hidup yang dimaksud dr Ramadhan contohnya adalah pola makan. Ketika orang punya banyak duit, risiko kanker usus meningkat karena makannya banyak mengandung lemak sementara orang miskin tidak punya uang untuk membeli makanan seperti itu.
Artinya yang lebih menentukan adalah gaya hidupnya. Seandainya sama-sama makan makanan berlemak, maka baik kaya maupun miskin risikonya untuk kena kanker akan sama saja. Demikian juga kalau sama-sama mengonsumsi makanan yang sehat, risikonya juga sama-sama lebih rendah kecuali kalau secara genetis memang lebih rentan.
(up/ir)











































