Elastisitas dari vagina ini meliputi daya lenturnya yang memungkinkan seorang bayi bisa keluar dari vagina melalui jalan lahir. Kondisi ini terkadang sulit untuk dipahami, bagaimana mungkin lubang yang kecil bisa sangat elastis dalam membantu mengeluarkan kepala bayi.
"Yang mempengaruhi elastisitas adalah otot vagina yang memungkinkan anak bisa lewat ketika dilahirkan," ujar dr Amaranila Lalita, SpKK saat dihubungi detikHealth dan ditulis, Rabu (10/10/2012).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal senada juga diungkapkan oleh Dr R Muharam, SpOG(K) dari Klinik Yasmin RSCM bahwa yang mempengaruhi elastisitas dari vagina itu adalah otot-otot pangggul. Jika pernah melahirkan maka otot ini dapat menjadi kendur.
"Usia menopause dan juga perubahan hormon yang terjadi bisa mempengaruhi fungsi organ reproduksi sehingga kekencangan otot dan kulit vagina juga terpengaruh. Serta luka dan keputihan bisa mempengaruhi elastisitas dari vagina," ujar Dr Muharam.
Meski begitu, frekuensi berhubungan seks yang dilakukan bersama pasangan tidak menyebabkan elastisitas dari vagina berkurang. Namun elastisitas vagina bisa mempengaruhi kualitas dari hubungan seks.
Dr Muharam menjelaskan otot-otot panggul yang mengendur setelah melahirkan ini perlu dilatih dan dikencangkan lagi. Hal ini penting karena kalau tidak nantinya bisa menjadi lembek dan membuat rahim turun akibat kurangnya dukungan dari otot-otot tersebut.
Agar elastisitas dari vagina ini bisa terjaga dengan baik dan dapat memberikan kepuasan seksual bagi pasangan, tak ada salahnya untuk melakukan senam kegel secara teratur.
(ver/ir)











































