Para pekerja malam seperti satpam, polisi, penjaga toko 24 jam atau buruh pabrik yang dapat jatah shift malam dituntut terjaga ketika kebanyakan orang sedang terlelap. Karyawan yang sering lembur juga demikian. Akibatnya, jam tidurnya jadi tak normal dan seringkali mengalami gangguan tidur seperti insomnia.
Insomnia adalah gangguan tidur di mana penderitanya sulit memulai tidur atau mempertahankan tidur walaupun ada kesempatan. Akibatnya akan menyebabkan kurang tidur dan kecapekan. Karyawan yang terbiasa bekerja dan terjaga pada malam hari dapat mengalami kesulitan tidur karena terbiasa menahan kantuk atau tak tidur pada malam hari.
Agar kesehatannya tetap terjaga, orang-orang yang sering bekerja malam hari harus menebus kekurangan jam tidurnya di siang hari sehingga tubuhnya cukup beristirahat. Apabila perubahan jam biologis yang terjadi cukup diimbangi dengan pengaturan tidur, maka kondisi kesehatannya tak akan terganggu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dr Andreas mengakui memang ada juga pekerja shift malam yang akhirnya terkena insomnia. Gangguan ini dapat dihindari jika pintar mengatur waktu tidur. Jadi bukan jam biologisnya yang dipaksa berubah, namun hanya digeser dengan jumlah jam tidur yang sehat, yaitu sekitar 7-8 jam pada orang dewasa.
Kalau bekerja dengan shift yang acak semisal terkadang masuk pagi dan terkadang masuk malam, maka shift kerja sebaiknya diatur sesuai pembagian waktu secara merata. Misalnya, 3 hari masuk pagi 3 hari masuk malam secara teratur. Tujuannya adalah agar memudahkan karyawan mengatur jam tidurnya.
"Jadi tergantung dari orang tersebut apakah bisa tidur siang dengan baik, apakah kalau pulang ke rumah bisa beristirahat atau harus melakukan pekerjaan lain. Karena tidur itu perlu ketenangan sementara saat siang banyak orang yang beraktivitas," kata dr Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT pakar kesehatan tidur RS Medistra Jakarta.
Kecenderungan insomnia ini juga tak lepas dari karakter pribadi. Ada orang-orang tertentu yang memang lebih suka bekerja pada malam hari, berbeda dengan kebanyakan orang yang lebih semangat bekerja di pagi hari. Jika memiliki kecenderungan tersebut, maka orang seperti ini akan tenang-tenang saja bekerja di malam hari dan justru tidak semangat bekerja di pagi hari.
Dr Rima menambahkan bahwa memang ada penelitian yang menegaskan pekerja shift malam angka kesakitannya lebih tinggi walau sudah berusaha mengganti jam tidur yang hilang di siang hari. Tidur siang dianggap tidak sebagus tidur malam karena melawan irama sirkadian tubuh yang tergantung dari sinar matahari.
Agar pekerja shift malam terhindar dari insomnia dan gangguan kesehatan akibat kurang tidur, dr Andreas memberikan tips sebagai berikut:
- Jangan minum kopi ketika merasa ngantuk di malam hari, misal pada jam 2 jam 3. Sebaiknya meminum kopi dilakukan sebelum berangkat kerja karena efek kafein dapat bertahan 9-12 jam. Jika ketika bertugas malam baru minum kopi, badan mungkin merasa segar tapi pas pulang jadi sulit tidur.
- Pekerja shift malam sebaiknya tidak berkendaraan sendiri, tapi menggunakan kendaraan umum. Tujuannya untuk meminimalisir risiko kecelakaan akibat mengantuk atau menurunnya konsentrasi.
- Gunakan kacamata hitam saat pulang. Jaga suasana di rumah agar tetap gelap sehingga memicu tidur.
(pah/vit)











































