Saat sulit tidur atau insomnia, terkadang orang langsung saja memilih jalan pintas dengan minum obat tidur tanpa resep dokter. Tapi hati-hati, beberapa obat justru malah dapat memperburuk insomnia dan membuat Anda semakin kurang tidur.
Obat diresepkan dokter tentu saja dengan tujuan untuk meringankan gejala penyakit atau menyembuhkannya. Namun beberapa obat memiliki efek samping, salah satunya menyebabkan kesulitan tidur atau bahkan sampai memicu insomnia.
Gangguan insomnia didefinisikan sebagai keluhan subjektif yang berkenaan dengan kesulitan tidur, yang meliputi cara memulai atau permulaan tidur, durasi (lama) tidur, penggabungan proses tidur, kualitas tidur, kesempatan tidur, yang mengakibatkan terganggunya aktivitas sehari-hari. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah obat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut juga diamini oleh dr. Dito Anurogo dalam konsultasi detikHealth. Menurutnya, orang yang sering kesulitan tidur harus berhati-hati bila minum obat, sebab beberapa obat dapat menyebabkan insomnia.
"Bertanyalah kepada dokter atau apoteker apakah obat yang diminum menyebabkan insomnia," jelas dr Dito.
dr Dito menyebutkan beberapa jenis obat yang dapat memicu insomnia, antara lain:
1. Obat antidepresan, seperti: golongan SSRI (fluoxetine, paroxetine, sertraline, citalopram, escitalopram, fluvoxamine), venlafaxine, duloxetine, monoamine oxidase inhibitors.
2. Obat stimulan, misalnya: kafein, methylphenidate, derivat amphetamine, ephedrine, dan derivat (turunannya), kokain.
3. Analgesik narkotik, misalnya: oksikodon, kodein, propoxyphene.
4. Obat jantung (kardiovaskuler), seperti: beta-bloker, agonis dan antagonis reseptor-alfa, diuretik, lipid-lowering agents.
5. Obat paru-paru, misalnya: teofilin, albuterol.
6. Obat antikanker (antineoplastic), seperti: medroxyprogesterone, leuprolide acetate. goserelin acetate, pentostatin, daunorubicin, interferon alfa.
7. Hormon, termasuk: kontrasepsi oral, preparat tiroid, kortison, progesterone.
8. Obat golongan amin simpatomimetik, seperti: bronchodilator (Terbutaline, Albuterol, Salmeterol, Metaproterenol), derivat atau turunan xanthine (Theophylline), decongestants (Phenylpropanolamine, Pseudoephedrine, Phenylephrine).
9. Stimulan sistem saraf pusat, misalnya: methylphenidate.
10. Golongan anticholinergics (misalnya: ipratropium bromide).
11. Golongan antihipertensi, misalnya: clonidine, beta-blockers
(Propranolol, Atenolol, Pindolol), methyldopa, reserpine.
12. Lain-lain, seperti: alkohol, fenitoin, nikotin, levodopa, quinidine, kafein, anacin, Excedrin, empirin, preparat obat batuk dan
flu.
"Bukannya tidak boleh diminum (obatnya) tapi harus diatur jam minumnya," tegas dr Andreas, pemilik akun @IDTidurSehat, akun yang banyak memberi info seputar tidur sehat termasuk mitos dan faktanya.
(mer/vit)











































