ADVERTISEMENT

Rabu, 31 Okt 2012 16:02 WIB

Ulasan Khas Insomnia

ABG yang Rajin Begadang, Insomnia atau Memang Doyan?

Putro Agus Harnowo - detikHealth
ilustrasi (Foto: Thinkstock)
Jakarta -

Idealnya orang mulai beranjak ke tempat tidur pada jam 9 malam, kecuali jika ada keperluan atau sengaja begadang. Pada remaja, ada sedikit hal yang berbeda. Remaja kebanyakan susah kalau diminta tidur jam 9 malam dan baru bisa tidur menjelang tengah malam, padahal paginya harus berangkat ke sekolah. Apakah ini salah satu gejala insomnia?

"Belum tentu. Kebanyakan orang memang jam tidurnya 8-9 jam sehari. Pada remaja juga sama, tapi jam biologisnya sedikit berbeda. Remaja cenderung baru mulai merasa mengantuk setelah jam 10-11 malam. Jadi remaja kalau tidur lebih malam itu wajar," kata dr. Andreas Prasadja, RPSGT, pakar kesehatan tidur serta konsultan Sleep Disorder Clinic RS Mitra Kemayoran kepada detikHealth seperti ditulis Rabu (31/10/2012).

Menurut dr Andreas, jam tidur yang lebih larut ini bukan disebabkan karena remaja banyak menghabisakn waktu untuk hiburan atau menonton TV, namun karena mereka cenderung suka beraktifitas pada jam-jam tersebut. Banyak remaja yang menghabiskan waktunya sampai malam untuk belajar, membaca, berorganisasi atau kegiatan positif lainnya.

Yang jadi masalah adalah ketika esoknya harus berangkat sekolah pagi-pagi sehingga membuat jam tidur jadi berkurang. Apabila siang harinya tidak diimbangi dengan tidur siang yang cukup, dapat menyebabkan masalah dan mengganggu aktifitas remaja. Kebanyakan orang akhirnya menganggap remaja rentan mengidap insomia atau gangguan tidur.

Sebuah penelitan yang dilakukan National Sleep Foundation di Amerika mendapati bahwa kebanyakan siswa yang sudah disuruh bangun pagi rentan mengalami gangguan tidur dan merasa tertekan. Penyebabnya karena remaja cenderung terjaga lebih malam dari orang dewasa. Akibatnya remaja mengalami rasa kantuk berlebihan pada siang hari.

Ketika peneliti mencoba memundurkan jam masuk sekolah dari pukul 7:15 menjadi pukul 8:40, hasilnya ternyata amat positif. Siswa merasa lebih bersemangat, konsentrasi dan prestasinya membaik, keterlambatan berkurang, angka kecelakaan lalu lintas menurun, bahkan angka kenakalan remaja juga ikut menurun.

Di Indonesia, kebanyakan sekolah sudah masuk sekitar pukul 7:00 pagi hari, bahkan ada yang lebih pagi lagi. Jika memperhitungkan kemacetan, bisa jadi pagi-pagi buta anak sudah disuruh bersiap berangkat ke sekolah. Maka tak mau, remaja sebaiknya belajar mengkondisikan dirinya untuk tidur lebih awal agar kebutuhan tidurnya tercukupi.

"Untuk membiasakan agar dapat tidur lebih awal, jangan langsung disuruh tidur pada jam yang telah ditentukan, tapi dimulai secara bertahap. Misalnya tidur 15 menit lebih awal, kemudian beberapa hari besoknya ditambah lebih awal lagi sampai bisa terbiasa tidur pada jam tidur yang diinginkan," kata dr Andreas yang juga sering ngetwit soal tips tidur lewat akun @IDTidurSehat.

Lain kasus pada remaja, lain pula yang dialami orang usia lanjut. Orang tua biasanya tidur lebih awal pada pukul 6-7 malam tapi terbangun pada jam 3 pagi dan tidak bisa tidur lagi. Walaupun sama-sama doyan terjaga di malam hari, penyebab lansia yang betah melek ini berbeda.
 
Tidur terdiri atas kondisi REM atau tidur aktif di mana banyak terjadi mimpi dan nonREM berupa tidur tenang. Kondisi tidur nonREM dibagi menjadi tidur ringan yang gampang dibangunkan dan tidur dalam yang lebih susah dibangunkan. Semakin bertambah usia, maka tidur dalam yang dialami makin berkurang sedangkan tidur ringannya semakin banyak.

"Orang tua sering bilang belum tidur, padahal dilihat sudah ketiduran di depan TV atau di kursi. Ini karena ia mengalami tidur ringan tetapi merasa belum tidur. Karena tidak banyak beraktifitas, maka orang tua sering tidur di siang hari atau ketiduran sehingga malamnya menjadi sulit tidur," kata dr Rimawati Tedjasukmana, SpS, RPSGT pakar kesehatan tidur RS Medistra Jakarta.

(pah/vit)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT