"Fungsi payudara itu adalah untuk menghasilkan ASI dan menyusui saat sudah punya anak. Selain itu juga bisa berfungsi sebagai pertanda seorang perempuan atau ciri-ciri seks sekunder. Payudara yang sehat tidak harus besar, yang penting berfungsi dengan baik. Besar kecil kan relatif," kata dr Aditya Wardhana, SpBP(K), dokter spesialis bedah plastik dari RSCM kepada detikHealth seperti ditulis Rabu (7/11/2012).
Payudara yang besar juga belum tentu sehat. Sebuah penelitian yang dimuat journal BMC Medical Genetics menemukan ada hubungan antara payudara yang besar dengan risiko kanker. Penyebabnya diduga karena kadar hormon seks estrogen yang memicu pertumbuhan kelenjar susu pada payudara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun begitu, bukan berarti wanita berpayudara kecil aman dari risiko kanker. Risiko kanker tetap mengintai pada orang-orang yang tidak bisa menerapkan hidup sehat, tak terkecuali pria. Kenyataannya pria sekalipun bisa kena kanker payudara meski risikonya jauh lebih kecil.
"Setiap orang bisa kena kanker, terlepas dari payudaranya kecil atau tidak. Yang jelas payudara yang kecil juga saat menyusui bayi akan membesar dan menghasilkan ASI. Setelah masa menyusui selesai, nanti payudara akan kembali ke ukuran biasa," kata dr Aditya.
Lebih lanjut lagi, dr Aditya menyarankan bahwa payudara wanita secara lahiriah sudah normal proporsional dengan bentuk tubuh. Selama fungsinya normal dan tidak ada kelainan, payudara sebaiknya tidak usah diutak-atik. Kriteria payudara yang sehat adalah dapat menghasilkan ASI dengan baik dan tidak ditemukan adanya benjolan tumor maupun kanker.
(pah/vit)











































