"Oh banyak (risikonya). Kalau kita tahu penyebabnya, tentu kalau kita biarkan terus akan banyak risikonya nanti," kata Dr Aman Pulungan, SpA(K), konsultan endokrinologi anak dari RS Cipto Mangunkusumo saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis Rabu (21/11/2012).
Risiko yang mengancam kesehatan anak ketika masa puber datang terlalu cepat menurut Dr Aman sangat beragam tergantung penyebabnya. Salah satu penyebab pubertas dini yang harus diwaspadai adalah gangguan pada kelenjar anak ginjal atau adrenal yang disebut Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terlepas dari apa penyebabnya, pubertas dini juga memberikan ancaman terhadap kepadatan massa tulang. Risiko mengalami osteoporosis atau pengeroposan tulang meningkat baik pada laki-laki maupun perempuan yang mengalami pubertas lebih awal, karena kondisi hormonalnya berubah.
Risiko keganasan juga bisa mengalami peningkatan khususnya pada perempuan karena terkait dengan masa menopause. Karena menstruasi dimulai lebih awal, menopause juga akan datang lebih cepat dan menurut berbagai penelitian hal itu bisa meningkatkan risiko kanker payudara.
Ancaman yang tidak kalah penting untuk diwaspadai menurut Dr Aman adalah perkembangan psikologis anak. Ada lebih banyak risiko yang dihadapi ketika anak dewasa terlalu cepat dibandingkan jika sesuai dengan usianya.
Secara langsung, menjadi dewasa terlalu cepat memang tidak berhubungan dengan perilaku seks berisiko tetapi bisa meningkatkan risiko bila dikaitkan kematangan emosional. Gairah seks yang meningkat pada masa puber tentu bisa berbahaya jika kontrol emosinya belum matang.
"Yang terpenting bagi orang tua adalah segera bawa ke dokter jika anak mengalami puber terlalu cepat. Oleh karena itu, orang tua juga perlu tahu kapan seharusnya anak mengalami puber dan apa saja tanda-tanda pubertas," pesan Dr Aman.
(up/)











































